Oleh: Drs Suprayitno | September 28, 2009

Sejarah KISAH DESA LAWADAN


KISAH DESA LAWADAN

Desa Lawadan yang sekarang tinggal cerita, besar sekali andilnya terhadap kabupaten Tulungagung. Dahulu, di desa ini ada ritual menyusui siluman buaya putih untuk mengusir bencana. Seperti apa kisahnya…?

Di daerah Tulungagung banyak terdapat peninggalan sejarah purbakala. Sekitar 63 buah peninggalan berupa benda bergerak dan tidak bergerak. Di antaranya peninggalan tersebut adalah 26 prasasti, 24 diantaranya batu. Salah satunya adalah prasasti Lawadan. Karena terletak di Desa Lawadan, yang sekarang berubah nama jadi Wates Campurdarat.

Prasasti yang bertanggal 18 November 1205, hari Jum’at Pahing tersebut dikeluarkan oleh Prabu Srengga, raja terakahir kerajaan Daha, yang juga dikenal dengan nama Prabu Dandanggendis. Prasasti tersebut berisi pemberian keringanan pajak dan hak istimewa semacam bumi perdikan atau sima.

Alasan pemberian “hadiah” tersebut adalah karena jasa prajurit Lawadan yang sudah memberikan bantuan kepada kerajaan mengusir musuh dari timur, sehingga raja yang tadinya telah meninggalkan kraton dapat kembali berkuasa.Desa Lawadan yang sekarang tinggal cerita, besar sekali andilnya terhadap kabupaten Tulungagung. Makanya, ketika masih berwujud rawa, orang-orang di sana mudah mencari uang, yakni dengan cara mencari ikan yang dapat dijual dan jadi uang. Karena itu, pada umumnya orang-orang di sana semua kaya, rumahnya besar-besar, tiangnya kayu jati glendeng.

Setiap pagi, sarapannya ikan bakar yang dimasukkan bumbung. Kalau istirahat siang, biasa tiduran di atas lantai yang terbuat dari sesek bambu. Uniknhya, bisa tiduran sambil mengintip ikan yang berkejar-kerajan. Sorenya, sambil menanti matahari terbenam, dihabiskan dengan berperahu mencari bunga teratai dan kul.

Sedangkan kalau mempunyai hajat apa saja, baik menikahkan atau mengkhitankan anaknya, hiburannya kesinian tayup. Terkadang tamunya siluman Bajul Putih. Karena siluman Bajul Putih itu kesenangannya menari dengan waranggana. Apalagi aturan tayup pada waktu itu bebas, minta gending atau lagu apa saja boleh, memasukkan uang ke sela payudara waranggana sambil memegangnya juga tidak dilarang.

Apalagi kalau yang memasukkan uang tersebut siluman Bajul Putih, tidak ada waranggana yang tidak senang. Disamping mendapatkan uang, payudaranya juga bisa berubah jadi berisi, padat, kenyal, dan indah. Tapi sayangnya, tidak semua waranggana bisa mendapatkan hal ini.

Konon, pada masa itu tidak sedikit waranggana yang sengaja membiarkan semua lelaki meremas-remas payudaranya. Bahkan tidak hanya itu, tapi juga ada yang sampai mau meneteki segala. Alasannya masuk akal, siapa tahu diantara lelaki itu siluman Bajul Putih.

Kenapa bisa begitu? Konon menurut ceritanya, siluman Bajul Putih itu tidak hanya menyukai kesenian tayup, tapi juga suka dengan payudara yang masih kencang. Makanya, siluman Bajul Putih itu lebih suka memilih payudara waranggana yang masih perawan. Begitulah kisah-kisah di masa lalu.

Ketika Penulis melakukan investigasi kesana, bekas Desa Lawadan, baru saja terkena musibah besar. Orang Jawa mengatakan “kena pageblub”. Pertengahan November 2007 kemarin, warganya sejumlah 170 orang, terkena penyakit chikungunya. Karena pageblug ini ada seorang warga yang usul kepada sesepuh desa agar mengadakan upacara ritual telanjang dada.

Usulan tersebut agaknya karena terinspirasi pada kisah lama, sewaktu Desa Lawadan masih berwujud rawa. Bila kena musibah besar, cara mengatasinya gampang. Para wanita, baik yang masih perawan maupun yang sudah menyusui, berbondong-bondong pergi ke gundukan untuk mengadakan ritual telanjang dada.

Konon, setelah wanita-wanita itu menyusui siluman Bajul Putih, musibah yang melanda desa pun langsung hilang.

Begitu juga ketika prajurit Lawadan mengusir musuhnya. Isteri-isteri prajurit tersebut juga pergi ke gundukan untuk menyusui siluman Bajul Putih.

Karena usulan tersebut, para sesepuh desa kemudian berkumpul. Setelah usulan tadi dimusyawarahkan, kemudian merancang ritual apa yang sesuai. Akhirnya disepakati kalau mereka akan mengadakan upacara ritual menyusui.

Sebelum upacara ibu menyusui dilaksanakan, didahului dengan upacara sesaji yang dilaksanakan pagi hari. Yang membawa sesaji para gadis yang berpakaian bak putrid kraton tempo dulu. Rombongan ini diarak keliling desa. Setelah itu, malamnya baru dilaksanakan upacara ritual ibu menyusui.

Mereka tidak harus telanjang dada, hanya cukup tidak mengenakan BH. Sehingga dari belakang masih terlihat memakai baju. Tapi kalau dilihat dari depan, baru tampak payudaranya dibiarkan terbuka. Kemudian salah satu dari mereka ada yang mendapat bisikan halus, “Kalau ingin selamat, tolong semua warga mengadakan syukuran di perempatan jalan!”

Maka dari itu, untuk memperingati lahirnya tahun Saka yang jatuh pada hari Kamis Pahing, tanggal 10 Januari 2008, oleh warga desa yang mengaku wong Lawadan, diadakan upacara adat baritan.

Memang, setiap tahun, tepatnya pada tanggal 1 Sura, wong Lawadan yang tinggal di Desa Wates, kecamatan Campurdarat pasti mengadakan upacara adat baritan. Yaitu, syukuran yang diadakan di perempatan-perempatan jalan desa. Tahun ini uborampe lebih komplit dibanding dengan uborampe untuk upacara adat baritan tahun-tahun sebelumnya.

Kenapa? Menurut keterangan Purwari, karena belum lama ini (pertengahan Nopember 2007) warga desa Wates sejumlah 170 orang baru saja terkena penyakit chikungunya. Maka uborampe untuk upacara adat baritan pada hari Rabu, tanggal 9 Januari 2008 kemarin dikomplitkan. Kalau uborampe tahun-tahun sebelumnya hanya takir plontang, jenang sura, jenang mancawarna, jenang abang, sega punar, sega mule, mas agung, gula gimbal, gula gringsing, pisang, buceng robyong, dan lada sega gurih (sekul suci ulam sari). Tahun ini (2008), ubarampenya kemudian ditambahi cok bakal, sajen, kembang setaman, buceng sewu, sega urap, pala kependem, pala gemandul, padi, dan kembar mayang.

Upacara adat baritan tersebut dilaksanakan setelah Maghrib. Seluruh masyarakat Desa Wates keluar dari rumah, dan berkumpul diperempatan jalan desa. Untuk ibu-ibu sambil membawa takir plontang berisi berbagai hidangan dan sesaji. Diantaranya jenang sura, buceng kuat dan ingkung.

Takir plontong adalah tempat nasi dan lauk pauk terbuat dari daun pisang diatasnya diberi janur. Sesaji dan hidangan tersebut diletakkan di kerumunan masyarakat. Dan hidangan itu bisa dinikmati, ketika sesepuh desa Wates usai memberi doa.

“Kalau sudah dihajatkan, masyarakat bisa menyantap hidangan itu,” ungkap Purwari.

Sebelum acara baritan itu dimulai, Rabu pagi, pemuda desa Wates mengadakan berbagai persiapan. Seperti, membersihkan desa, merangkai janur yang digunakan hiasan di setiap perempatan. Tidak hanya itu, para pemuda juga membuat dimar (lampu terbuat dari pohon bambu diberi minyak tanah).

“Dimar itu kami namakan dimar sewu, meski kadang jumlahnya tidak seribu,” ujar Purwari.

Dimar yang dipasang diperempatan tersebut, dinyalakan ketika menjelang petang. Dimar itu tidak hanya dipasang disatu perempatan, tettapi di seluruh perempatan desa Wates, sebanyak 24 perempatan. Bapak-bapak yang membuat kembang mayang. Sedangkan ibu-ibu dan remaja puteri, ramai-ramai membuat takir plontang, beserta isi dan sesaji.

Takir-takir tersebut nanti dibagikan kepada masyarakat yang mengikuti upacara adat baritan. “Jadi mereka yang membuat juga yang menikmati,” katanya.

Purwari melanjutkan, rangkaian upacara adat baritan tidak hanya bersih desa, dan membuat takir plontang. Tetapi, juga ada sebagian masyarakat setelah shalat Subuh mengatamkan Al-Qur’an dibalai desa Wates.

Khataman Al-Qur’an ini berakhir sekitar pukul 15.00. Setelah itu, masyarakat tidak ada yang keluar rumah atau musholah. Begitu shalat Maghrib selesai, masyarakat tidak langsung berbondong-bondong keluar rumah dan menuju ke perempatan. Tetapi mereka menunggu bunyi kentongan yang dipukul kamituwa.

“Jadi saya setelah Maghrib langsung memukul kentongan, itu pertanda acara baritan dimulai,” jelasnya.

Mendengar bunyi kentongan tersebut, para pemuda, ibu-ibu, anak-anak, dan sesepuh desa langsung ke perempatan sambil membawa takir. Dan dimar sewu yang sudah dipasang pada pagi harinya langsung dinyalakan. Sedangkan malamnya, usai acara dilanjutkan, pagelaran kesenian uyon-uyon.

Purwari mengatakan, tujuan digelar baritan, selain untuk membersihkan desa dari segala mara bahaya. Seperti penyakit chikunguya. Juga punya makna mempererat silaturahmi antar penduduk. Arena dalam acara itu, seluruh elemen masyarakat berkumpul jadi satu.

“Mereka bisa berinteraksi antar satu dengan yang lain,” katanya.

Upacara adat baritan ini merupakan tradisi atau budaya yang dilaksanakan masyarakat desa Wates secara turun-temurun. Dan tradisi ini selalu digelar. Ketika tidak dilaksanakan, menurut kepercayaan masyarakat setempat, terjadi pageblug atau bencana

home


Responses

  1. […] BUMI LAWADAN […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: