Oleh: Drs Suprayitno | September 26, 2009

Museum Daerah Tulungagung


MUSEUM DAERAH TULUNGAGUNG

Museum Daerah Tulungagung dibangun pada akhir tahun 1996 yang berlokasi di Jl. Raya Boyolangu KM 4 komplek SPP/SMPA Tulungagung. Museum dengan luas lahan 4.845 m2 dan luas bangunan 8x15m ini difungsikan sebagai tempat penyimpanan koleksi yang semula disimpan di Pendopo Kabupaten Tulungagung yang selanjutnya direncanakan pengembangan pembangunan di kompleks SPP/SPMA.

Letak Museum ini bisa dibilang cukup strategis sebab berada di wilayah yang sarat dengan potensi Benda Cagar Budaya yang tidak bergerak, antara lain Goa Selomangleng, Candi Gayatri, Candi Cungkup, dll. Selain itu juga merupakan jalur utama menuju Obyek Wisata Pantai Popoh Indah, Pantai Sine, dan Kerajinan Marmer di sepanjang jalur menuju Pantai Popoh Indah.

Maksud dari gagasan mendirikan Museum ini selain sebagai wadah/tempat penyelamatan warisan budaya, diharapkan nantinya juga sebagai tempat tujuan studi, rekreasi bagi siswa, mahasiswa maupun masyarakat luas. Museum Daerah Tulungagung merupakan museum umum dimana koleksinya terdiri dari Koleksi Arkeologi yaitu peninggalan – peninggalan benda tidak bergerak berupa patung/arca pra sejarah yang sebagian besar terbuat dari batu andesit yang berjumlah 12 buah dan koleksi Etnografi ( Peralatan Teknologi Tradisional ).

Selanjutnya kenapa Koleksi Etnografi itu masuk Museum Daerah. Karena ini merupakan sejarah tersendiri bagi masyarakat Tulungagung yang dulu dikenal sebagai Kadipaten Ngrowo.

Hampir sepanjang masa Daerah Tulungagung digenangi rawa – rawa sepanjang kurang lebih 8 bulan dalam setahun. Maka dengan adanya Terowongan Niama akhirnya Tulungagung terbebas dari banjir.

Perlu diketahui bahwa Booklet Koleksi Arkeologi dan Etnografi pada Museum Daerah ini di tahun 2008 menambah koleksi berupa alat-alat permainan tempo dulu dan alat-alat tradisional, seperti Egrang, Banggalan/gangsingan/kekean, enthik, dakon, bendan, tembak-tembakan, dan seterika arang.

Alat – Alat Permainan Tempo Dulu :

1. Egrang

Bahannya bisa dari bambu yang tua, dari bahan kayu yang kuat, atau bisa juga berbahan logam. Sepasang untuk kaki kanan dan kaki kiri. Keduanya diberi pencatan tinggi. Tinggi pencatan bisa dibuat sesuai selera, bisa 0.5m, 1m, dll. Permainan ini pada dasarnya mempunyai fungsi membentuk kecerdasan seseorang pada masa perkembangan jasmaninya. Permainan ini membutuhkan ketrampilan, kecekatan, disiplin, cermat, waspada, tangguh tidak mudah goyah, lengah sedikit akan jatuh.

Egrang ini dapat digunakan untuk permainan apa saja diantaranya yaitu :
– Balapan lari

– Sepak bola dengan Egrang

– Saling mendorong diatas Egrang. Siapa yang jatuh berarti kalah

– Uji nyali berjalan di atas air, dsb.

2. Banggalan / Gangsingan / Kekean

Umumnya terbuat dari kayu yang tahan akan paku dan dibentuk sedemikian rupa. Bagian bawah diberi paku sebagai alat untuk mematuk agar dapat diputar sampai mendesing. Tujuannya pada saat dipatuk oleh lawannya tetap berputar. Siapa yang mati dulu berarti dia yang kalah. Alat untuk memutar disebut Uwet ( bahasa jawa ), biasanya dari lulup kayu Pohon Waru.

Permainan ini bisa dilakukan oleh beberapa orang dengan jumlah maksimal 10 orang, misalnya dengan cara hom pim pah ( bahasa jawa ). Siapa yang paling kalah memberi umpan dahulu, bisa dengan Tu ( artinya kepala di atas ) atau dengan Kek ( artinya kepala di bawah ). Kalau gangsing pemberi umpan tetap berputar dan lawannya mati berarti yang memberi umpan menang. Demikian seterusnya sampai dengan jumlah peserta. Gangsing yang paling kuat bertahan berputar saat mematuk atau dipatuk lawan, dialah yang menang dan berhak menyandang gelar Raja. Dan saat melanjutkan permainan, Raja akan mematuk paling akhir. Raja tidak pernah dipatuk oleh bawahannya, kecuali saat Raja mematuk umpan terakhir dan Raja mati, maka yang memberi umpan naik jadi Raja. Gangsing yang kalah siap dipatuk. Begitu seterusnya. Permainan ini dapat melatih kecermatan, kecerdasan dalam berpikir karena memerlukan teknik permainan dalam memenangkan permainan ini.

3. Enthik

Bahannya terbuat dari Ranting Bambu Ori yang tua. Ranting bambu yang dibutuhkan dalam permainan ini ada 2 macam yaitu ranting pendek yang berukuran ± 15cm yang berfungsi sebagai bahan untuk dipukul dan disebut Wedoan ( bahasa jawa ). Sedangkan Ranting Bambu Ori yang lebih panjang yang disebut Lanangan berukuran ± 60cm yang berfungsi sebagai alat.

Permainan ini ada 3 langkah, yaitu :

1. Langkah Pertama yaitu ranting yang pendek sebagai Wedoan ditaruh di atas lubang kemudian dicungkit dan dilempar sejauh mungkin dengan memakai bambu yang panjang. Kemudian bambu yang panjang ditaruh di atas lubang tadi lalu bambu yang pendek dipukulkan dan diupayakan kena.

2. Untuk langkah kedua, bambu yang pendek diletakkan di atas bambu yang panjang, lalu diayunkan ke atas dan dipukul sejauh mungkin. Kemudian Si penjaga mengembalikan dengan datar ke arah lubang tersebut dengan bambu pemukul tadi .

3. Sedangkan langkah ketiga biasa disebut dengan Patél Lele yakni bambu pendek ( Wedoan ) ditaruh dalam lubang dengan posisi miring dan sebagian ranting bambu terlihat, lalu dipukul dengan menggunakan bambu yang panjang, setelah naik baru dipukul sejauh mungking. Kemudian jarak hasil pukulan bambu panjang diukur memakai bambu. Yang pendek ( Wedoan ) ke arah lubang di awal permainan. Demikian seterusnya. Jumlah nilai yang harus dikumpulkan dalam permainan berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak.

Pada langkah pertama, hak bagi penjaga apabila bisa menangkap nilainya 10 ( sepuluh ). Sedangkan pada langkah kedua, hak bagi penjaga senilai 15 ( lima belas ). Dan pada langkah ketiga, hak bagi penjaga senilai 25 ( dua puluh lima ) dan bila penjaga bisa menangkap pukulan ranting bambu pemain, maka otomatis pemukul gugur/mati dan ganti posisi sebagai penjaga.

Kesimpulan dalam permainan ini :

a. Untuk membentuk kepribadian anak menjadi cerdas, tangkas, ulet, waspada dalam gerak-gerik lajunya permainan. Kalau tidak waspada akan terjadi malapetaka mengenai dirinya.

b. Kepuasan bagi yang dapat mengumpulkan lebih dahulu nilai yang telah ditetapkan oleh kedua belah pihak.

c. Bagi yang menang mendapatkan hadiah yang telah ditentukan.

4. Dakonan / Dakon / Congklak

Dakonan merupakan suatu permainan tradisional yang biasanya dilakukan oleh anak – anak perempuan dengan jumlah peserta 2 orang. Bahan dakon terbuat dari bahan kayu yang diukur sedemikian rupa menurut selera atau bisa juga menggunakan bahan yang lain. Pada papan Congklak/Dakon terdapat 16 buah lubang yang terdiri dari 14 lubang kecil yang saling berhadapan dan 2 lubang besar di kedua sisinya. Untuk isiannya berjumlah 98 buah biji yang terbuat dari biji – bijian, batu – batuan, kelereng, atau plastik. Setiap sisi pemain terdapat 7 lubang kecil dan lubang besar di sisi kanan pemain merupakan lubang milik masing -masing pemain.

Permainan ini mengandung unsur pendidikan untuk mencerdaskan akal pikiran anak dan pandai menafsirkan/memperkirakan bagaimana agar lumbung miliknya dapat terisi penuh sehingga dapat mengalahkan lumbung milik lawannya.

5. Bendan

Bahannya terbuat dari batu berjumlah 2 buah, yang satu berukuran besar dengan berat ± 1.5 kg. Kemudian dicarikan batu yang bisa berdiri tegak tanpa bantuan. Batu yang kedua agak kecil tujuannya untuk dilemparkan ke pasangan batu yang besar tadi. Kalau bisa kena, maka yang menjaga harus menggendong atau siap jadi kudanya dengan jarak yang ditentukan terlebih dahulu oleh pemain yang menang. Pada lemparan pertama misalkan tidak kena dari jatuhnya lemparan pertama tadi dilanjutkan langkah berikutnya untuk melempar pasangan batu tadi sampai roboh. Kalau berhasil merobohkan maka penjaga siap – siap menggendong tapi jaraknya lebih dekat dari lemparan pertama tadi. Namun apabila lemparan tadi tidak mengenai sasaran berarti pemain dinyatakan kalah dan siap jadi penjaga. Demikian seterusnya. Permainan ini bisa dilakukan oleh 2 orang atau dengan kelompok. Permainan ini dapat membentuk ketrampilan, kecerdasan, keuletan dan kekuatan fisik.

6. Tembak- Tembakan

Bahannya ada yang terbuat dari Pring Jabal sebesar telunjuk. Mimis/pelurunya terbuat dari buah salam yang sudah ranum atau sudah matang. Lalu diletakan diujung dan pangkalnya. Cara kerjanya, peluru yang ada di pangkal tersebut ditusuk dengan tongkat tumpul dan dengan diameter sebesar lubang Pring Jabal. Sehingga berbunyi letupan dan di arahkan kepada lawan yang dianggap musuh. Permainan ini dilakukan dengan kelompok yang telah ditentukan oleh peserta itu sendiri.

Pemainan ini memiliki unsur pendidikan untuk bela Negara. Adapun tembak – tembakan di dalam koleksi ini kami buat mirip dengan Tembak Laras Panjang yang bahannya dari kayu namun ujungnya tetap menggunakan Pring Jabal. Pelurunya menggunakan Pring Ori yang dibentuk sedemikian rupa sebesar lubang yang ada dan ujungnya yang tumpul dilapisi karet. Fungsinya sama dengan yang di atas.

home


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: