Oleh: Drs Suprayitno | September 26, 2009

Bagian Kedua lembar (i) BABAD TULUNGAGUNG


BABAD TULUNGAGUNG

( Bagian Kedua )

PERGURUAN PACET

Pada zaman Pemerintahan Mojopahit hubungan antara daerah pedalaman sangat sulit, sehingga keamanan di sebelah selatan sungai Brantas tidak mudah dapat dikuasai.

Sering disana-sini timbul pemberontakan. Berdirinya perguruan-perguruan sangat besar manfaatnya bagi kepentingan raja, karena selain mengajarkan ilmu, para guru pada umumnya juga merupakan mata telinga dari pada perguruan Negara. Demikian pula hubungannya dengan peguruan di dukuh Bonorowo, dekat Campurdarat yang terkenal dipimpin oleh seorang sakti bernama Kyai PACET.

Kyai Pacet mengajarkan ilmu Joyokawijayan. Ia mempunyai murid-murid pilihan diantaranya :

1. Pangeran Kalang dari Tanggulangin.

2. Pangeran Bedalem dari Kadipaten Betak.

3. Menak Sopal dari Kadipaten Trenggalek.

4. Kyai Kasanbesari Tua-Tua dukuh Tunggul.

5. Kyai Singorataruno dari dukuh Plosokandang.

6. Kayi Sendang Gumuling dari desa Bono.

7. Pangeran Lembu Peteng putra Majapahit (termasuk murid baru).

Pada suatu hari Kayi Pacet telah mengadakan pertemuan dengan para murid-muridnya. Pada persidangan itu selain memberikan wejangan-wejangan ilmu, Kyai Pacet menceritakan, bahwa diantara murid-muridnya ada yang mendirikan peguron, tetapi sayangnya tidak memberitahukan hal itu kepada gurunya.

Kyai Kasanbesari merasa tertusuk perasaannya, dikarenakan dia sendirilah yang mendirikan peguron sebagaimana kata sindiran yang telah diucapkan dihadapannya dengan terus terang oleh sang guru tersebut.

Dengan tanpa pamit seketika itu juga Kyai Besari meninggalkan tempat pesamuan. Dengan kepergian Kyai Besari yang tanpa pamit itu Kyai Pacet lalu menyuruh dua orang muridnya yaitu Pangeran Kalang dan Pangeran BEDALEM untuk menasehati Kyai Kasanbesari agar menyadari diri dan mau kembali ke Bono rowo untuk tetap menjadi murid dari Kyai Pacet. Apa sebab Kyai Pacet menunjuk kedu murid tersebut, karena ia mengerti bahwa Pangeran Kalang dan Pangeran Bedalem dengan diam-diam juga menjadi muridnya Kyai Kasanbesari. Dengan keberangkatan dua orang utusan tersebut maka Kyai Pacet berpesan pada murid-murid lainnya supaya mereka mau tetap di Bonorowo untuk melanjutkan pelajarannya, sedang Kyai Pacet akan mengadakan semadi di dalam sebuah gua. Yang ditugaskan mengawasi di luar gua adalah Lembu Peteng.

KYAI KASANBESARI INGIN MEMBUNUH KYAI PACET.

Kyai Kasanbesari yang hatinya merasa tersinggung dan masih dalam keadaan marah terhadap gurunya, telah kedatangan dua orang utusan dari Bonorowo yaitu Pangeran Kalang dan Pangeran Bedalem. Dalam wawancaranya Pangeran Bedalem menyatakan, bahwa dia tidak akan mencampuri urusan Kyai Kasanbesari dan Kyai Pacet, dan dia terus pulang ke Betak. Sebaliknya Pangeran Kalang malah menunjuki tindakan Kyai Besari bahkan dibakar semangatnya untuk diajak berontak dan membunuh gurunya.

Setelah berunding masak-masak, maka berangkatlah mereka berdua ke Bonorowo dengan tujuan untuk membunuh Kyai Pacet. Pada waktu Kyai Besari dan Pangeran Kalang secara diam-diam masuk ke dalam gua tempat Kyai Pacet bersemadi dengan tanpa diketahui oleh fihak yang mengawasi, maka kedua orang itu merasa sangat terkejut karena dalam penglihatannya mereka telah berjumpa dengan seekor singa yang siap untuk menerkamnya. Kyai Besari dan Pangeran Kalang cepat-cepat keluar dari gua dan lari tunggang langgang.

Konon, setelah kedua orang itu melarikan diri maka Kyai Pacet telah memanggil Pangeran Lembu Peteng yang berjaga di luar gua dan ditanya mendengar apakah waktu Kyai Pacet sedang bersemadi Pangeran Lembu Peteng menjawab, bahwa dia tadi telah mendengar suara “GEMLUDUG” dan setelah dilihatnya tampak bahwa Kyai Pacet memegang cahaya yang kemudian berubah menjadi sebilah keris. Keris tersebut kemudian diberi nama Kyai Gleduk, sedang desa dimana Kyai bersemadi hingga sekarang bernama GLEDUG. Selesai bersemadi Kyai Pacet segera mengejar kedua orang yang sedang berlari itu.

Kyai Kasanbesari mengerti kalau dikejar, segera mengeluarkan kanoragannya dengan membanting buah kemiri yang berubah menjadi seekor harimau.

Kyai Pacet mengimbanginya dengan membanting bungkul gamparan yang berubah menjadi ular besar. Kedua binatang itu berkelahi. Harimau kanoragan dari Kyai Besari kalah dan berubah menjadi buah kemiri lagi. Tempat dimana Kyai Besari menderita kekalahan itu oleh Kyai Pacet dinamakan desa Macanbang. Kyai Besari terus melarikan diri, sedang Kyai Pacet bersama Pangeran Lembu Peteng kembali ke Padepokan untuk mengerahkan murid-murid guna menangkap Kyai Besari dan Pangeran Kalang.

Murid dari Kyai Pacet disebar ke seluruh penjuru dengan dipimpin oleh Pangeran Lembu Peteng. Akhirnya Pangeran Lembu Peteng dan teman-temannya dapat berjumpa dengan Kyai Besari dan Pangeran Kalang. Timbullah peperangan yang ramai. Kyai Besari melarikan diri ke Ringinpitu, sedang Pangeran Kalang dikejar terus oleh Pangeran Lembu Peteng.

Pangeran Kalang lari ke Betak dan bersembunyi di tamansari Kadipaten Betak. Pada waktu itu putera dari Pangeran Bedalem yang bernama Roro Kembangsore sedang berada di Tamansari.

Roro Kembangsore merasa tidak keberatan bahwa Pangeran Kalang bersembunyi di situ, karena Pangeran Kalang masih pernah pamannya (saudara dari Ayahnya).

Kemudian datanglah Pangeran Lembu Peteng ke tamansari untuk mencari Pangeran Kalang.

Di tamansari Pangeran Lembu Peteng bertemu dengan Roro Kembangsore. Puteri Bedalem ini tidak mengakui bahwa pamannya bersembunyi disitu. Pangeran Lembu Peteng tertarik akan kecantikan sang putri dan menyatakan rasa asmaranya. Roro Kembangsore mengimbanginya.

Ketika kedua merpati tersebut sedang dalam langenasmara, maka Pangeran Kalang yang bersembunyi di tamansari itu dapat mengintip dan mengetahui bagaimana tindakan kemenakannya terhadap Pangeran Lembu Peteng. Dengan diam-diam Pangeran Kalang masuk ke dalam Kadipaten untuk melaporkan peristiwa tersebut kepada kakaknya ialah Pangeran Bedalem.

Pangeran Bedalem setelah mendengar pelaporan dari adiknya, menjadi marah sekali, terus pergi ke tamansari. Timbullah perang antara Pangeran Lembu Peteng dan Pangeran Bedalem. Pangeran Lembu Peteng dapat meloloskan diri bersama dengan Roro Kembangsore, tetapi terus dikejar oleh Pangeran Bedalem.

Kembali kepada kisah Kyai Besari yang berhasil meloloskan diri dari peperangan dengan murid Kyai Pacet. Ia menuju ke desa Ringinpitu, rumah Kyai Betak, yaitu pernah kakaknya. Pada waktu itu Kyai Betak sedang berada di pendopo bersama dengan dua orang anaknya yang bernama Banguntulak dan Dadaptulak. Dengan kedatangan Kyai Besari kedua anak tersebut lalu keluar untuk pergi ke ladang.

Kyai Besari mengatakan bahwa kedatangannya ke Ringinpitu itu bermaksud untuk meminjam pusaka ialah pusaka Ringinpitu yang berbentuk tombak bernama Korowelang dengan alasan untuk kepentingan “NGIDERI PARI”. Kyai Betak tidak meluluskan permintaan adiknya. Kyai Besari marah, akhirnya terjadi perang. Kyai Betak kalah dan mati terbunuh. Kyai Besari terus pergi dengan membawa pusaka Korowelang.

Waktu Dadaptulak dan Banguntulak pulang dari ladang, mereka sangat terkejut melihat ayahnya berlumuran darah dan dalam keadaan tidak bernyawa. Oleh sebab tidak ada orang lain yang datang di situ kecuali Kyai Besari, maka Banguntulak dan Dadaptulak yakin bahwa pembunuhnya tak lain tentu Kyai Besari.

Segera mereka mengejarnya ke arah selatan dan dapat menemukannya. Terjadilah peperangan. Banguntulak dan Dadaptulak kalah. Banguntulak terluka dan berlumuran darah. Darahnya berbau langu. Maka tempat dimana ia mati dinamakan Boyolangu, sedang tempat dimana Dadaptulak meninggal dinamakan Dadapan.

Kyai Besari melanjutkan perjalannya. Ia berjumpa dengan Pangeran Bedalem yang sedang mengejar Pangeran Lembu Peteng. Pangeran Bedalem menceritakan tentang peristiwanya, yang mana Kyai Besari dalam hal itu bersedia membantunya. Keduanya segera pergi mencari Pangeran Lembu Peteng yang lari bersama-sama Roro Kembangsore.

Pada waktu Pangeran Lembu Peteng dan Roro Kembangsore sedang beristirahat di tepi sungai, datanglah Kyai Besari dan Pangeran Bedalem. Pangeran Lembu Peteng dapat tertangkap dan dibunuhnya. Jenazahnya dibuang ke dalam sungai. Roro Kembangsore dapat meloloskan diri terus lari. Punakawan dari Pangeran Lembu Peteng setelah mengetahui peristiwa terbunuhnya Pangeran yang menjadi momongannya itu memberi tahukannya kepada Kyai Pacet. Kyai Pacet segera mengirimkan utusan, ialah Adipati Trenggalek dengan diikuti oleh bekas punakawan Pangeran Lembu Peteng untuk mengadakan pelaporan ke Mojopahit. Dalam perjalannya mereka bertemu dengan Perwira Mojopahit bersama dengan Pangeran Suka yang ketika itu mendapat tugas dari Raja untuk mencari putra yang meninggalkan kerajaan tanpa pamit, ialah Pangeran Lembu Peteng. Adipati Trenggalek menceritakan hal ikhwal tentang terbunuhnya Pangeran Lembu Peteng. Setelah mengerti prosesnya maka Perwira Mojopahit tersebut ingin membuktikan tempat kejadian itu bersama-sama dengan wadyabalanya.

Meskipun diadakan pengerahan tenaga untuk mencarinya, namun jenazahnya Pangeran Lembu Peteng tak dapat diketemukannya. Sungai dimana jenazah Pangeran Lembu Peteng dibuang oleh Perwira Mojopahit diberi nama Kali Lembu Peteng.

PERWIRA MADA MENCARI JEJAK PANGERAN BEDALEM DAN KYAI BESARI.

Pangeran Bedalem setelah mendengar berita bahwa ia dikejar oleh balantentara dari Mojopahit, sangat ketakutan dan melarikan diri ke jurusan selatan. Karena takutnya maka Pangeran Bedalem bunuh diri mencebur ke sebuah kedung. Kedung tersebut kemudian dinamakan Kedung Bedalem. Oleh sebab Kadipaten Betak lowong, maka yang diangkat untuk mengganti Bedalem ialah Pangeran Kalang.

Balatentara Mojopahit disebar untuk mencari Kyai Besari. Putra Mojopahit yang bernama Pangeran Suka dalam mengadakan operasi ini kena dirunduk oleh Kasan Besari dan tergelincir masuk ke sebuah Kedung hingga meninggal dunia. Kedung tersebut lalu diberi nama Kedungsoko. Akhirnya Kyai Besari dapat diketemukan di desa Tunggul oleh Perwira Mada. Oleh sebab itu Kyai Besari tidak mau menyerah maka timbul peperangan. Kyai Besari kalah dan terkena pusaknya sendiri yaitu Korowelang. Dukuh tersebut oleh Sang Perwira diberi nama dukuh Tunggulsari.

Karena kecakapannya menumpas pemberontakan-pemberontakan dan kekeruhan-kekeruhan konon sang perwira akhirnya diangkat menjadi Patih dan mendapat gelar Patih Gajah Mada.

PANGERAN KALANG JATUH CINTA KEPADA Rr. INGGIT Setelah Pangeran Kalang menjabat Adipati di Betak, maka hatinya tertawar oleh Rr. Inggit, adik dari Retno Mursodo janda alm. Pangeran Bedalem. Roro Inggit ingin dijadikan istrinya, tetapi menolak dan Retno Mursodo juga tidak menyetujuinya.

Pangeran Kalang memaksanya. Roro Inggit bersama Retno Mursodo meninggalkan Betak dan terus melarikan diri menuju ke desa Plosokandang.

Pangeran Kalang berusaha mengejarnya, tetapi kehilangan jejak, sehingga ia lalu mengeluarkan suatu maklumat, yang menyatakan bahwa barang siapa ketempatan dua orang putri dari Kadipaten Betak tetapi tidak mau lapor, maka akan dijatuhi hukuman gantung.

KYAI PLOSOKANDANG DIPERSALAHKAN

Salah seorang murid dari Kyai Pacet yang bernama Kyai Singotaruno disebut pula Kyai Plosokandang, karena berasal dari dukuh Plosokandang. Pada suatu hari ia ketemuan dua orang putri ialah Rr. Inggit dan Rr. Mursodo. Kedatangan putri Betak ini sengaja mencari pengayoman dari Kyai Plosokandang. Segala sesuatu mengenai tindakan Pangeran Kalang oleh Rr. Mursodo diceritakan semua, dan karena itu Kyai Singotaruno tidak berkeberatan untuk melindunginya, meskipun ia sendiri mengerti bahwa usahanya itu sangat berbahaya bagi jiwanya sendiri.

Adipati Kalang datang sungguh ke Plosokandang dan bertanya kepada Kyai Singotaruno apakah dia mempunyai tamu yang berasal dari Betak. Kyai Singotaruno menjawab bahwa ia tidak mempunyai tamu seorangpun. Tetapi Adipati Kalang tidak percaya, dan ingin mencarinya sendiri ke belakang. Roro Mursodo dan Roro Inggit ketika mendengar bahwa tamu yang datang itu Adipati Kalang, segera berkemas dan melarikan diri ke jurusan barat. Adipati Kalang mengetahui hal ini, dan ia sangat marah kepada Kyai Singotaruno. Kyai Singotaruno dianggap salah, dan dijatuhi hukuman gantung.

RORO INGGIT BUNUH DIRI.

Oleh karena Roro Inggit takut bila sampai dipegang oleh Pangeran Kalang, maka ia berputus asa dan bunuh diri terjun ke dalam sebuah Beji atau Blumbang. Tempat dimana Roro Inggit bunuh diri oleh Pangeran Kalang diberi nama desa Beji. Adapun Roro Mursodo terus lari menuju ke Gunung Cilik.

MBOK RONDO DADAPAN.

Ketika Pangeran Lembu Peteng perang dengan Kyai Besari, maka Roro Kembangsore dapat memisahkan diri dan lari ke desa Dadapan.

Di desa tersebut ia menumpang pada seorang janda bernama mBok Rondo Dadapan. mBok Rondo mempunyai anak laki-laki bernama Joko Bodo. Lama kelamaan Joko Bodo terpikat oleh kecantikan wajah Roro Kembangsore dan ingin sekali memperistrinya, tetapi selalu ditolak secara halus oleh Roro Kembangsore. Oleh karena Joko Bodo selalu mendesak maka pada suatu hari ketika mBok Rondo Dadapan sedang bepergian, Roro Kembangsore mengajukan permintaan. Ia bersedia dikawin, asalkan Joko Bodo mau menjalani tapa mbisu di sebuah gunung dekat desa itu. Joko Bodo menerima permintaan tadi dan pergi meninggalkan rumah. Ikatan janji itu tidak diketahui oleh mBok Rondo Dadapan. Roro Kembangsore juga pergi menuju ke Gunung Cilik. Maka ketika mBok Rondo pulang dari bepergian ia merasa terkejut, karena keadaan rumah kelihatan sepi, dan ternyata kosong. Ia pergi kesana kemari dan memanggil-manggil kedua anak tersebut. Tetapi tidak ada jawaban.

Akhirnya diketemukan Joko Bodo sedang duduk termenung menghadap kebarat. Dipanggilnya berulang kali tidak mau menjawab. Karena jengkelnya mBok Rondo lupa dan mengumpat “Bocah diceluk kok meneng bae kaya watu”.

Seketika itu juga karena kena sabda mBok Rondo, Joko Bodo berubah menjadi batu. mBok Rondo menyadari atas keterlanjuran kata-katanya. Maka ia lalu berharap; “Besuk kalau ada ramainya zaman gunung ini saja beri nama “GUNUNG BUDEG”, dan hingga sekarang gunung tadi disebut orang gunung budeg.

RESI WINADI DI GUNUNG CILIK

Pada suatu hari Sang Patih mendengar berita bahwa di gunung cilik ada seorang pendeta wanita yang menamakan diri Resi Winadi. Yang menjadi pendeta tersebut sebetulnya ialah Roro Kembangsore. Kecuali menjadi pendeta ia juga menjadi empu. Resi Winadi mempunyai dua orang cantrik kinasih yang bernama SARWO dan SARWONO. Pada suatu hari cantriknya yang bernama Sarwo disuruh ke Kadipaten Betak untuk mencoba kesaktian dan keampuhan pusaka yang dibuatnya sendiri untuk diadu dengan pusaka milik Pangeran Kalang.

Cara mengadunya adalah sebagai berikut :

Kalau pusakanya ditikamkan di pohon beringin daunnya rontok dan pohonnya tumbang, itulah yang menang. Selanjutnya bilamana pusaka Resi Winadi yang kalah maka Resi Winadi tunduk dan mau disuruh apa saja. Sebaliknya kalau pusaka Sang Resi menang dan Pangeran Kalang menghendaki untuk dimilikinya maka ada syaratnya ialah Pangeran Kalang supaya pergi sendiri ke Gunung Cilik untuk memintanya, tetapi bila sudah mulai naik gunung harus berjalan dengan jongkok (laku dodok), tidak diperkenankan memandang wajah sang resi sebelum diizinkan. Setelah cantrik mengerti akan tugasnya berangkatlah ia. Kecuali penugasan kepada cantrik Sarwo, Resi Winadi juga menugaskan kepada Sarwono untuk masuk ke tamansari Betak dengan menyamar, dan yang penting dapat mencabut sumbat ijuk yang berada di Tamansari. Adapun letaknya di bawah batu gilang .

Setelah datang di Betak cantrik Sarwo menghadap Adipati Kalang dan mengutarakan segala maksudnya, ialah apa yang ditugaskan oleh Resi Winadi.

Pangeran Kalang menanggapi dan menyetujuinya. Masing-masing membawa senjata pusaka ke alun-alun untuk diadunya. Pusaka Betak dicoba terlebih dahulu, ialah ditikamkan pada pohon beringin kurung yang tumbuh di tengah-tengah alun-alun, tetapi tidak apa-apa. Sekarang datang gilirannya pusaka Gunung Cilik. Setelah ditikamkannya, maka semua daunnya telah rontok dan kemudian tumbanglah pohon itu.

Pangeran Kalang mengakui kekalahannya dan ingin sekali memiliki pusaka tersebut. Sarwo tidak keberatan asal Pangeran Kalang bersedia memenuhi syarat-syaratnya tadi. Pangeran Kalang tidak berkeberatan. Dengan diantar oleh cantrik Sarwo dan diikuti oleh beberapa orang prajurit pengawalnya berangkatlah Pangeran Kalang ke Gunung Cilik. Di tamansari Betak, Sarwono yang ditugaskan mencabut sumbat ijuk di bawah batu gilang dapat menemukan tempat itu. Sumbat segera dicabutnya, dan seketika itu memancarlah sumber air yang besar. Kadipaten Betak tertimpa banjir dan terendam air. Sarwono dapat menyelamatkan diri dengan naik sebuah getek.

DI PERTAPAAN GUNUNG CILIK

Waktu itu Sarwono sedang menghadap Resi Winadi untuk melaporkan tugas yang dilaksanakan. Datanglah ibunya Rr. Mursodo. Maka saling berceritalah mengenai riwayat masing-masing. Tak lupa pula disebut-sebut tentang matinya Rr. Inggit, karena dikejar-kejar oleh Pangeran Kalang. Mereka sangat bergembira dapat bertemu kembali sehingga saling mencucurkan air mata. Kemudian datanglah Patih Majapahit dengan bala tentaranya juga ingin menyatakan kebenaran berita yang diterimanya.

Pada saat itu tampaklah dari jauh kedatangan dua orang. Yang seorang berjalan jongkok dan nyembah. Tamu ini tak lain adalah Pangeran Kalang yang diantar oleh cantrik Sarwo. Setelah dekat, maka Sang Resi memberi perintah supaya Pangeran Kalang memandangnya. Alangkah terkejutnya bercampur malu. Karena yang disembah-sembah tadi adalah keponakannya sendiri. Karena malu bercampur takut maka Pangeran Kalang terus melarikan diri, yang kemudian dikejar oleh Patih Mojopahit.

PANGERAN KALANG MATI TERBUNUH.

Timbullah peperangan antara Prajurit pengawalnya Pangeran Kalang dengan bala tentara Mojopahit. Prajurit dari Pangeran Kalang mengalami kekalahan dan kesemuanya mati terbunuh di suatu desa, yang mana oleh Patih Gajah Mada desa tersebut diberi nama desa BATANGSAREN.

Pangeran Kalang terus dikejar, dan oleh tentara Mojopahit dapat ditangkap dan dihujani senjata tajam, sehingga pakaiannya hancur dan badannya penuh dengan luka-luka. Tempat dimana Pangeran Kalang tertangkap ini diberi nama CUIRI.

Meskipun keadaan sudah parah masih dapat melarikan diri, tetapi …….

Tempat tertangkap untuk kedua kalinya ini diberi nama desa Kalangbret.

Adipati Kalang masih berusaha lari, tetapi karena sudah merasa lelah, lalu bersembunyi di song sungai, dan disinilah ia menghembuskan nafasnya yang penghabisan. Tempat tersebut oleh Patih Gajah Mada dinamakan desa Ngesong. Setelah keadaan aman Patih Gajah Mada kembali ke Mojopahit. Bekas pertapaan Rr. Kembangsore hingga sekarang menjadi tempat pesadranan.                                next


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: