Oleh: Drs Suprayitno | September 26, 2009

Bagian Kedua (iv) BABAD TULUNGAGUNG


11. CERITA – CANDI

MAKAM – GAYATRI

Pada pemerintahan Kerajaan Mojopahit yang pertama bertahtala Raja R. WIDJAJA dengan gelar KERTARAJASA DJAYAWARDANA (tahun 1293-1309). Beliau beristrikan dengan putri raja / anak raja SINGO-SARI yang ke IV yaitu GAYATRI. Gayatri mempunyai gelar RADJAPATMI / RADEN RAWI.

Beliau mestinya dapat menduduki tahta kerajaan tetapi karena seorang BIKU (Pendita Budha) lalu diwakili oleh anaknya perempuan yang bergelar TRIBUWANA TUNGGADEWI JOYOWISNUWARDANI (tahun 1328-1350)

Pada tahun 1350 Gayatri / Radjapatmi wafat, jenazahnya dimakamkan di Boyolangu.

Pada tahun 1350-1389 jaman pemerintahan PRABU HAYAM WURUK selalu diperhatikan pemeliharaan terhadap makam-makam pada raja dan pahlawan Mojopahit. Beliau memerintahkan untuk membuat Candi Patung Gayatri di tempat makamnya.

Pada tahun 1500 pecahlah kerajaan Mojopahit akibat adanya perang saudara. Kerajaan menjadi lemah dan timbul kekacauan di dalam negeri dan berkembanglah agama islam di Indonesia.

Ketika itu patung-patung yang menjadi pujaan pengikut agama Hindu / Budha, banyak yang mengalami kerusakan dan banyak yang ditutup tanah hingga tidak kelihatan.

Pada tahun 1915 waktu pemerintahan Penjajahan Belanda membuktikan tentang kebenaran Sejarah Indonesia, maka patung yang tertimbun dan yang telah merupakan hutan diatasnya itu lalu dibongkar dan ternyata diketemukan sebuah arca besar yang kepalanya telah dipotong dan hingga sekarang belum dapat diketemukan.

Patung tersebut dibersihkan dan dikembalikan pada tempat duduknya semula.

Baru setelah penyedilikan dan pembersihan ialah pada tahun 1921 diperoleh penjelasan, bahwa tempat itu adalah betul-betul Makam Gayatri.

KISAH SINGKAT CANDI CUNGKUP

Candi cungkup terletak di desa Sanggrahan, Kecamatan Boyolangu Kabupaten Tulungagung. Candi tersebut adalah candi Budha. Di halaman sebelah timur ada 8 arca Budha yang keadaannya sudah karena kepalanya sama hilang (dirusak). Disampingnya terdapat batu yang kepalanya seperti meja bundar.

Adapun candi Cungkup tersebut menurut cerita digunakan untuk upacara pembakaran mayat para bangsawan pada sekitar tahun ± 1300 yaitu di jaman Kerajaan Mojopahit Prabu Hayam Wuruk.

Selain itu juga ada tempat pembakaran mayat guna rakyat jelata, yang disebut candi Dadi terletak di atas gunung. Dari candi Cungkup ke arah selatan kira-kira jarak 2,5 km.

Disebelah utara candi Cungkup jarak kira-kira 150 meter terdapat tempat bekas pesanggrahan, yang mana disitu terpancang dua tiang batu yang dinamakan Cancangan gajah. Oleh sebab disitu ada bekas pesanggrahan, maka desa yang ketempatan itu dinamakan Sanggarahan.

12. RIWAYAT SINGKAT PASARAEN BEDALEM

Di pasarean Bedalem terdapat 12 makam yang diantaranya disebut-sebut orang makam Pangeran Benowo lan Pangeran Dampuawang. Adapun lainnya termasuk pasarean biasa (pengikut).

Menurut keterangan dari pada sesepuh di sekitar pasarean itu yang mana merupakan cerita run-temurun peninggalan dari nenek moyangnya diterangkan bahwa :

Pangeran Benowo berasal dari Mataram. Oleh karena pada waktu itu beliau mau dijajah oleh bangsa Belanda, maka bersama-sama pengikutnya terpaksa meninggalan Mataram, hingga sampai di Bedalem untuk menepi/prihatin, jangan sampai tertangkap oleh bangsa Belanda.

Bagaimana kisah selanjutnya tak ada yang mengerti dan tahu sudah menjadi pasarean tersebut.

Jadi kemungkinan besar adanya pasarean itu sebelumnya Belanda masuk daerah pedalaman pulau Jawa.

Sejak dahulu ada juru kuncinya dan kalau meninggal dunia lalu diganti oleh anak turunnya.

Menurut ceritanya di dekat pasarean Benowo dahulu ada tersimpan beberapa buah buku-buku tetapi lalu diambil/dirampas oleh pihak Belanda.

Sebagai tradisi bila ada penjabat yang ingin berziarah ke makam Pengeran Benowo tersebut,mulai dari undak-undakan yang ke I s/d ke VII selalu berjalan jongkok (laku dodok) sambil menyembah. Tetapi lama kelamaan menjadi tebal tidak berani merubahnya.

Mula-mula pasarean itu belum diberi atap, tetapi pada ± tahun 1920, lalu dibuatnya dari silang/alang-alang oleh para demang. Setelah istilah demang tidak dipakai lagi dan berganti nama Kepala Desa, maka tentang perbaikan selanjutnya diteruskan oleh para lurah/Kepala Desa tiap-tiap 3 tahun sekali. Para Lurak seka wedana Campurdarat, yang jumlahnya ada ± 60 orang bersama-sama datang ke pasarean Bedalem itu untuk memperbaiki atap tersebut dengan dipimpin oleh Bapak Wedono dan dibantu oleh para Camat.

Pada tahun ± 1956 ketika Wedononya Bapak Siswodimoeljo, diadakan perubahan. Semua Kepala Desa se kawedanan Campurdarat bersama-sama datang ke pasarean tersebut untuk mengadakan perbaikan atap dan menggantinya dengan genteng. Maka sejak saat itu perbaikan atap jarang sekali dilakukan oleh para Kepala Desa.

Menurut kepercayaan bilamana disesuatu daerah terserang oleh hama tikus, maka pak lurah lalu utusan seseoarng mengambil batu merah (Boto) yang terletak di pasarean Badalem untuk dipergunakan tumbal sawahnya, setelah keadaan reda batu merah itu lalu dikembalikan ke pasarean lagi, sambil diadakan selamatan ala kadarnya. Tetapi lama kelamaan kepercayaan semacam ini juga berkurang.

Ketika jaman Agresi pasarean tersebut berkali-kali dijatuhi bom tetapi tidak ada satupun yang bisa meledak.

Disamping itu terdapat suatu kisah nyata bahwa mulai dahulu hingga sekarang bilamana ada gempa bumi baik besar maupun kecil di pasarean dan sekitarnya tidak ada getaran.

Pangeran Dampuawang menurut cerita adalah seorang bangsa Tionghowa yang sampai sekarng pasareannya digunkan untuk tempat pesadranan bagi orang-orang yang menginginkan kay raja (mencari pesugihan).

TELAGA BURET

Menurut kepercayaan yang menguasai ( mbau rekso) di telaga Buret adalah Mbah Djiigangdjojo. Dalam cerita sebetulnya mbah Djigangdjojo itu juga seorang pangeran tetapi oleh sebab termasuk pangeran yang sudah tua, maka lazimnya orang-orang lalu menyebutnya mbah Djigangdjojo begitu saja.

Mungkin pengeran Djigangdjojo itu juga seorang pelarian yang tujuannya sama dengan Pangeran Benowo di Bedalem hanya tempatnya menepi di telaga Buret.

Mbah Djigangdjojo kesenangannya adu jago. Sampai sekarang ini masih dipercayai kalu mbah Djigangdjojo itu kalah jagonya, maka keadaan ikan-ikan di rawa-rawa kelihatan banyak sekali.

Mbah Djigangdjojo mempunyai 2 orang anak yang seorang bernama Sekardjojo tempatnya masih menjadi satu ditelaga Buret berkumpul dengan mbah Djigangdjojo, sedang yang seorang bernama Kembangsore bertempat dibawah dawuhan/jempatan desa Gedangan.

Keadaan telaga Buret sampai sekarang seakan-akan masih tampak keangkerannya. Tak ada yang berani mengambil ikan dari sekitar Telaga itu, karena menurut kepercayan kalu ada yang berani mengambil, akhirnya tidak antara lama pasti menderita/mendapat halangan.

Kecuali kalau ikan tadi sudah berada di dawuhan Malang, biarpun asalnya dari telaga Buret tetapi sudah bisa diambil oleh siapapun saja.

Bagi desa Sawo, Gedangan dan Ngentrong telaga Buret merupakan tempat yang dianggap keramat.

Tiga desa tersebut tiap 1 tahun sekali tepat pada bulan Selo, hari Jum’at Legi bersama-sama mengadakan ulu-ulu/slamatan disitu.

Menurut cerita bapak Kepala desa Gedangan (Moedjono) kalau setiap tahun desa-desa tadi tidak mengadakan ulur-ulur (slametan) ke telaga Buret itu, maka banyak terjadi halangan didesanya. Oleh sebab itu hingga sekarang tidak berani meninggalkan kebiasaan tersebut.

Kecuali itu telaga buret masih menjadi tempat menepi bagi orang-orang yang akan magang lurah, kedatangannya kesitu untuk mencari timbul. Sewaktu-waktu sudah berhasil/tercapai cita-citanya lalu mengadakan slametan/nyadran ke telaga tersebut.

RIWAYAT HIDUP

R. SOENARDI BUPATI / KEPALA DAERAH

KABUPATEN TULUNGAGUNG

I. Untuk pertama kalinya bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Tulungagung diangkat seorang karyawan ABRI dari kesatuan AURI sebagai seorang Bupati Kepala Daerah.

Kepadanya diserahkan tanggung jawab untuk memimpin daerah serta dipercayakan sepenuhnya kepada beliau bersama-sama rakyat untuk membangun daerah Tulungagung.

Seorang karyawan ABRI tersebut adalah :

Nama : R. Soenardi

Pangkat : Let. Kol. Udara

Nnp : 462399

Lahir : tanggal 17 Agustus 1919

Di : Jakarta

Agama : Islam

Pendidikan yang telah dicapai :

1. Umur, mulai tahun 1927 s/d 1939

2. Militer, aplikasi dasar-dasar kemiliteran pada tahun 1954 s/d 1955

II. Pengalaman dan masa kerja :

a. Masa Pemerintahan Belanda

Pada tahun 1939 sebagi pegawai di luchvaart Afd di Andir Bandung (Jabar) dan Ngrowo Jogjakarta, dan berakhir sampai jatuhnya Pemerintah Belanda menyerah kepada Pemerintah Jepang.

b. Masa Pemerintah Jepang.

Pada tahun 1942 sebagai pegawai di Penerbangan Jepang di Moro krembangan Surabaya dan Bugis di Malang dan berakhir sampai jatuhnya Pemerintah Jepang menyerah kepada Pemerintah Sekutu.

c. Masa Revolusi Bangsa Indonesia

Pada tahun 1945 di lapangan terbang Bugis Malang dilanjutkan di lapangan Maguwo Jogjakarta sampai penyerahan kedaulatan R.I

d. Masa Pemerintahan R.I

1. Pada tanggal 9 April diangkat sebagai tentara di AURI dengan pangkat Ome III (sekarng Letnan Muda Udara II)

2. pada tahun 1949 sewaktu clash ke II ditawan Belanda dan dibebankan setelah hasil perundingan Pemerintah R.I – Belanda yang diwakili masing-masing oleh Mr. Rum – V. Royen

3. Pada tahun 1968 diangkat menjadi Bupati Kepala daerah (dengan Pangkat Let.Kol Udara), hingga sekarang di Tulungagung.

e. Memiliki Tanda-jasa, lencana-lencana :

1. Satya Dharma

2. Sapta Marga

3. Setya – Kesetiaan Sewindu

4. Sewindu – A.P.R.I

5. Setya Kesetiaan 16 Tahun

6. Aksi Militer I

7. Aksi Militer II

8. Bintang Swa Bhuwana paksa klas III.

LAMPIRAN

MOTTO

“DAERAH MINUS DIJADIKAN DAERAH SURPLUS”

1. KATA PENGANTAR

Atas Ridlo Tuhan yang Maha Esa, maka kami persembahkan Lambang Daerah Kabupaten Tulungagung ini kepada segenap warga masyarakat Tulungagung, untuk dapat diketahui makna, hakekat serta jiwa terkandung di dalamnya.

Maksud dari Pemerintah Daerah di dalam melahirkan Lambang Daerah tersebut di samping untuk digunakan sebagai menanam sejarah, khususnya bagi warga masyarakat Kabupaten Tulungagung, juga berusaha untuk mencoba menggambarkan rasa tanggung jawab kepada bangsa dan tanah air demi terwujudnya kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat, sesuai dengan motto daerah kita :

“DAERAH MINUS DIJADIKAN DAERAH SURPLUS”

Usaha memahami pengertian dari motto di atas, hendaknya jangan sekedar hanya dinilai secara lahiriah belaka, namun seharusnya lebih luas dari pada itu, yaitu dapatnya mencakup di atas segala aspek kehidupan kita, baik mental, spiritual maupun materiil, sehingga hakekatnya daripada itu dapat benar-benar mewujudkan masyarakat adil dan makmur sebagaimana yang diharapkan oleh dasar falsafah Negara kita Pancasila.

Di dalam himpunan yang sederhana ini selain kita ungkapkan makna dari pada Lambang Daerah di dalam segala seginya, kita sertakan pula Peraturan-peraturan Daerah serta ketentuan-ketentuan yang berlaku dan lain-lain. Yang bersangkut-paut dengan lambang daerah tersebut yang telah mendapatkan pengesahan dari Menteri Dalam Negeri No. Pemda 10/20/10-230 tanggal 24 Agustus 1970.

Telah menjadi catatan kita bersama bahwa upacara peresmian Lambang Daerah Kabupaten Tulungagung ini dilaksanakan tanggal 31 Agustus 1970 jam 09.00 WIB. Perlu kami tambahkan bahwa kehadiran himpunan dengan jauh dari pada sempurna ini, adalah sebagai usaha pemerintah dalam usaha menyumbangkan darma baktinya, kepada warga Kabupaten Tulungagung dengan data-data yang telah kami milikinya.

Demikianlah bahwa Lambang Daerah yang telah berhasil kita persembahkan kepada warga masyarakat Kabupaten Tulungagung ini hendaknya dapat dihormati dan dihargai sebagaimana mestinya.

Penghargaan dan penghormatan ini jangan kita dasarkan atas perwujudan benda dalam bentuk lambang daerah tersebut, tetapi kita harus dapat menyelami makna, isi serta jiwa dari pada Lambang Daerah Kabupaten kita ini.

Semoga Tuhan Y.M.E. selalu melimpahkan rohmat taufiq dan hidayahnya kepada kita semua di dalam segala amal perjuangannya, demi mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila.

Amien. –

Tulungagung, tgl. 31-8-1970

BUPATI KEPALA DAERAH

KABUPATEN TULUNGAGUNG

(R. SOENARDI)

2. “MAKNA, HAKEKAT DAN JIWA ASPIRASI DAERAH

YANG DITUANGKAN DALAM BENTUK LAMBANG

DAERAH KABUPATEN TULUNGAGUNG”.

______________________

Aspirasi daerah ini diwujudkan dalam bentuk gambar yang tertera dalam Lambang Daerah tersebut, sebagai usaha Pemerintah Daerah untuk menyatukan arah atau menfokuskan, demi tercapainya pembangunan daerah.

Hakekat dari Lambang Daerah ini merupakan gambaran ciri pokok tentang situasi dan kondisi daerah baik fisik geografis, ekonomi social maupun kulturilnya.

Ciri-ciri pokok yang terkandung di dalam Lambang Daerah itu bukan berarti suatu gambaran mati, pasief tidak berarti, namun pada hakekatnya hal itu adalah refleksi dari pada kekuatan daerah yang hidup, dinamis mengarah kepada tujuan pokok, kemakmuran serta kesejahteraan masyarakat.

Lambang Daerah Kabupaten kita ini baik dalam makna, isi dan jiwanya tidak terlepas dari dasar falsafah Negara kita Pancasila serta UUD 1945. Justru lahirnya Lambang Daerah kita ini didasari atas kebesaran Pancasila dan semangat juang 1945. betapa tidak, karena tidak karena Lambang Daerah kita ini mengandung satu motto perjuangan yang baru akan berhasil bila kita betul-betul bekerja giat dan rajin. Bekerja giat dan rajin tidak selamanya menuju ke sasaran, bila tidak diimbangi dengan sifat hakiki dari pada bangsa kita yaitu (humanisme) dan persatuan bangsa.

Imbangan ini juga disertai taqwa kepada Allah swt supaya kita paling maklum dan merasakan bahwa kemakmuran dan kesejaheraan rakyat itu ridlo rohmat Tuhan Yang Maha Adil.

Maka di sinilah semangat Pancasila dan UUD 1945. Ini mengilhami Lambang Daerah Kabupaten Tulungagung kita yang tercinta ini.

Untuk jelasnya dapatlah kita usahakan di sini manifestasi dari pada sila-sila dalam Pancasila itu yang menghayati isi Lambang Daerah Kabupaten kita.

1. Keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Sudah jelas kiranya bahwa kita masyarakat Indonesia umumnya serta warga Kabupaten Tulungagung khususnya mempunyai keimanan dan pengakuan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dalam arti adanya kehidupan keagamaan yang harmonis di sana dijunjung tinggi sikap toleransi terhadap kebebasan dan kemerdekaan untuk menjalankan ibadat menurut ajaran agamanya masing-masing saling hormat-menghormati antara pemeluk-pemeluk agama yang beraneka ragam itu. Pancaran ini diwujudkan dalam gambar yang berbentuk bintang.

2. Dengan didasarkan atas kemanusiaan yang adil dan beradab.

Bahwa manusia di dunia ini mempunyai kedudukan yang sama dan sederajat, dan harus diperlukan sesuai dengan fitrahnya sebagai makhluk Tuhan yang mulia.

Jadi menambahkan rasa keadilan diantara segenap warga Kabupaten. Hal ini sesuai dengan makna dari kata “TULUNGAGUNG” yakni suatu pertolongan yang besar, tanpa membedakan jenis, golongan pangkat maupun keturunan.

3. Semangat Persatuan

kehidupan warga masyarakat Kabupaten diliputi oleh susunan kekeluargaan yang menuju ke arah tumbuhnya kesatuan dan persatuan bangsa sebagai warga Kabupaten hidup harmonis dengan didasari oleh semangat persatuan yang menyala-nyala.

Refleksi ini tersimpul dalam inti bulatan yang mengitari pohon beringin dalam Lambang Daerah tersebut.

4. Asas Demokrasi

bahwa asas demokrasi Pancasila yang didasari atas kegotongroyongan dan mufakat adalah ciri khas dari pada sistem demokrasi, baik dalam bidang politik ekonomi sosial dan budaya yang didasarkan atas Ridlo Tuhan Yang Maha Esa. Maka dari ini tersimpul dari gambar inti bulatan dalam lambang tersebut, yang melambangkan kebulatan tekad di dalam mewujudkan demokrasi Pancasila.

5. Keadilan Sosial

Tata kehidupan dan penghidupan kekeluargaan warga masyarakat Kabupaten yang saling harga-menghargai terhadap hak-hak yang dimiliki, dimana masyarakat serta alat penguasaannya senantiasa membaktikan segala kenikmatan dan bahan bersama secara merata, selaras dengan tingkat perbedaan rohaniah serta jasmaniah para warganya yang senantiasa berusaha pula untuk mewujudkan dan meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan bersama sebagai tujuan utama.

Tujuan ini dapat disimpulkan didalam padi dan kapas, sebagai lambang kemakmuran dan kesejahteraan.

Demikianlah gambaran ringkas dari pengejawantahan Pancasila yang tersimpul dalam Lambang Daerah Kabupaten Tulungagung, yang sekaligus merupakan ilham pokok dari lahirnya Lambang Daerah Kabupaten Tulungagung.

Maka dengan kita telah memiliki Lambang Daerah ini, maka Pemerintah Daerah bersama warga masyarakat Kabupaten Tulungagung lebih yakin pengarahan hidup dari pada tujuan kita, “DAERAH MINUS DIJADIKAN DAERAH SURPLUS”. Lebih-lebih lahirnya Lambang Daerah ini dalam saat-saat kita memperjuangkan suksesnya pembangunan di tanah air, maka semangat kita pakai sarana untuk lebih mengingatkan lagi setiap langkah-langkah yang sudah kita capai untuk menuju kepada aah yang betul-betul kita harapkan.

Demikianlah bahwa Lambang Daerah yang telah berhasil dipersembahkan kepada warga masyarakat Kabupaten Tulungagung ini hendaknya dapat dihormati dan dihargai sebagaimana mestinya.

Sekali lagi diharapkan agar penghargaan dan penghormatan ini jangan kita dasarkan atas perwujudan benda dalam bentuk Lambang Daerah tersebut, tetapi kita harus dapat menyelami makna, isi serta jiwa dari pada Lambang Daerah Kabupaten kita ini.

Tulungagung, tanggal : 31-8-1970.

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _

TURUNAN

3. PERATURAN DAERAH KABUPATEN

TULUNGAGUNG

No. 11 TAHUN 1970

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH GOTONG ROYONG
KABUPATEN TULUNGAGUNG

Menetapkan peraturan daerah sebagai berikut :

PERATURAN DAERAH Kabupaten Tulungagung tentang Lambang Daerah Kabupaten Tulungagung.

M O T T O : Daerah minus dijadikan daerah surplus.

B A B I

KETENTUAN UMUM

Pasal 1

a. Daerah ialah : Daerah Kabupaten Tulungagung

b. Bupati ialah : Bupati Kepala Daerah Kabupaten Tulungagung

c. Lambang Daerah ialah : Lambang Daerah Kabupaten Tulungagung.

d. Pemaqkai ialah : Masyarakat umumnya dalam daerah Kabupaten

Tulungagung dengan mendapat ijin dari Bupati Kepala

Daerah.

B A B II

BENTUK, WARNA DAN MAKNA

Pasal 2

(1). Lambang Daerah Kabupaten Tulungagung terbagi atas 6 warna yaitu :

1. Putih.

2. Kuning.

3. Coklat.

4. Hijau.

5. Hitam.

6. Biru muda.

(2). Tentang arti warna :

1. Putih = Kesucian

2. Kuning = Kemashuran

3. Coklat = Kokoh

4. Hijau = Kemakmuran

5. Hitam = Abadi

6. Biru muda = Kesetiaan

Pasal 3

Tentang makna Lambang Daerah Kabupaten Tulungagung terdiri dari 10 (sepuluh) bagian ;

I. Lambang Daerah Kabupaten Tulungagung terlukis dalam sebuah dasar PERISAI berbentuk jantung yang mempunyai sudut LIMA mengandung arti bahwa dalam segala perjuangan dan pembelaan daerah senantiasa berpijak pada prinsip LIMA DASAR yaitu PANCASILA.

II. TULUNGAGUNG

A.Tulung berarti sumber air.

Agung berarti besar.

– Keseluruhannya berarti sumber air yang besar.

B.Tulung berarti pertolongan

Agung berarti besar.

– Keseluruhannya berarti pertolongan yang besar.

III. D A S A R

1. Perisai berlancip 5, bermakna dasar / falsafah Negara Republik Indonesia ”PANCASILA”.

2. Warna hitam dan kuning :

a. Hitam melambangkan Abadi

b. Kuning melambangkan kemashuran

– Mencerminkan keteguhan tekad dalam mengenalkan dasar falsafah Negara dengan disertai jiwa yang terkandung didalam Pancasila secara murni dan konsekwen, demi tercapainya masyarakat Tata Tenteram Kertaraharja.

IV. PADI DAN KAPAS

1. Melambangkan kemakmuran ( padi pangan ) dan kemakmuran abadi ”Loh-jinawe karta raharja”.

2. Jumlah pada 17, kapas 8 melambangkan Negara Republik Indonesia diproklamirkan.

3. Warna emas dan putih perlambang dari hasil yang berlimpah dari dan dengan usaha yang putih bersih.

V. BINTANG BERSUDUT LIMA DIUJUNG TOMBAK

1. Melambangkan cita-cita luhur dalam segala bidang, yang tak terlepas dari jiwa Pancasila.

2. Sinar 4 melambangkan pengamalan Pancasila yang memancar ke empat penjuru daerah.

3. Sinar 4 dan bintang bersudut 5 menggambarkan angka 45, ialah tahun kemenangan menjiwai semangat perjuangan bangsa Indonesia.

4. Bintang juru 5 berwarna emas perlambang Ketuhanan Yang Maha Esa dibawah perlindungan dan pimpinan Dialah, maka seluruh alam semesta seisinya itu hidup dan berikhtiar.

VI. INTI BULAT

A. Menggambarkan kebulatan tekad daerah serta warganya dalam membangun daerahnya agar terwujud isi motto daerahnya.

B. (1). Roda bergeligi : Menggambarkan semangat kerja / membangun dari kecamatan yang ada dalam Wilayah Kabupaten Tulungagung.

(2). Rantai beramata 17 buah bermakna kesatuan dan persatuan yang dijiwai oleh semangat proklamasi, serta sekaligus sebagai cacatan bahwa Daerah Kabupaten tulungagung dulu pernah memiliki 17 Kecamatan.

C. Warna biru muda menggambarkan langit / udara, gunung warna hitam daratan warna coklat dan air berombak 5 Pancasila, menggambarkan keadaan daerah dan isinya yang dimiliki oleh daerah dalam wilayah Kabupaten yang terdiri dari daerah pengairan, rawa-rawa, ngarai, batu marmer, pelikan dan bahan galian lainnya.

VII. TOMBAK TERTUTUP

1. Pusaka yang merupakan ciri-ciri khas / spesifik Tulungagung ”KYAI UPAS” yang secara tradisionil hingga kini dianggap bertuah.

2. Menggambarkan pusaka Tulungagung ”KYAI UPAS” sebagai perlambang kekuasaan Pemerintah Daerah yang berlandaskan keadilan.

VIII. GERBANG PUTIH

Gambaran ideal untuk menjadikan Daerah Kabupaten Tulungagung sebagai gerbang kesucian, kemakmuran dan keadilan sosial.

IX. BERINGIN

1. Melambangkan pengayoman yang berarti :

Pemerintah Daerah Kabupaten Tulungagung menjadi pengayoman bagi segenap warganya bahkan bagi setiap warganya diharap-harap menjadi pengayoman sesamanya.

2. Lekuk rimbun daun 5.

Bahwa pengayoman tersebut tidak bisa lain karena dijiwai oleh pengamalan Pancasila.

3. Bersulur 5.

Sebagai gambaran pengamalan Pancasila sehingga kokoh, berurat berakar kesegenap penjuru daerah sebagaimana sulur beringin yang apabila mencapai tanah akan menjelma menjadi akar yang kokoh.

X BUNGA TUNJUNG BERDAUN 5, BERKUNCUP 2, KANAN – KIRI

1. Bunga tunjung menggambarkan daerah Tulungagung mempunyai rawa-rawa.

2. Warna putih melambangkan kesucian, bersih.

3. Jumlah daun bunga 5 – Pancasila

4. Kuncup bunga 2 kanan kiri merupakan kesatuan jenis warna daerah Tulungagung yang terdiri dari pria dan wanita yang bersama-sama daerahnya.

Pasal 4

Bentuk, ukuran dan warna Lambang Daerah adalah seperti yang dimaksud dalam contoh terlampir pada peraturan daerah ini.

Pasal 5

(1). Lambang Daerah Kabupaten Tulungagung dapat digunakan sebagai berikut :

a. Panji-panji

b. Lencana-lencana

c. Cap

d. Kepala surat

e. Tanda pajak

f. Gambar

g. Kartu-kartu penduduk

(2). Cara-cara pemakaian Lambang Daerah termaksud dalam ayat (1) pasal ini diatur oleh Bupati Kepala Daerah dengan surat keputusan.

Pasal 6

(1). Dengan tidak mengurangi apa yang ditentukan dalam ayat (2) pasal 5. Umum dapat memakai Lambang Daerah Kabupaten tulungagung sebagai apa yang ditentukan dalam ayat (1) pasal 5, kecuali pemakaian untuk cap, kepala surat dan tanda pajak.

(2). Barang siapa hendak mempergunakan Lambang Daerah Kabupaten tulungagung diluar ketentuan termaksud dalam ayat (1) pasal 6 harus mendapat ijin dahulu dari Bupati Kepala Daerah.

Pasal 7

Siapapun dilarang :

a. Menghina Lambang Daerah Kabupaten Tulungagung.

b. Mempergunakan Lambang Daerah Kabupaten Tulungagung dengan cara yang bertentangan dengan ayat (1) pasal 6.

BAB III

KETENTUAN HUKUMAN

Pasal 8.

Pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan dalam pasal 5 dan 6 Peraturan Daerah ini dihukum kurungan selama-lamanya 3 (tiga) bulan atau hukuman denda setingi-tinginya Rp. 10.000,00 (sepuluh ribu rupiah).

BAB IV

PENUTUP

Pasal 9.

Peraturan Daerah ini dapat dinamakan “PERATURAN TENTANG LAMBANG DAERAH KABUPATEN TULUNGAGUNG”.

Pasal 10.

Peraturan Daerah ini berlaku mulai pada hari pertama sesudah hari pengundangannya.

Tulungagung, tgl. 13 – 7 – 1970

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH

GOTONG ROYONG

BUPATI, KEPALA DAERAH KABUPATEN TULUNGAGUNG,

KABUPATEN TULUNGAGUNG Ketua

Dto. Dto.

( R. SOENARDI ) ( MOCH. SADJURI )

Diundangkan di Tambahan Lembaran Daerah Propinsi Jawa Timur tahun 1970 seri C pada tanggal 28 Agustus 1970. No. 41/C.

A/n. Gupernur Kepala Daerah

Propinsi Jawa – Timur

Pd. Sekretaris Daerah

u.b.

Kepala Bagian Hukum Perundang-undangan

( M. ARIEF MULJADI, S. H. )

home


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: