Oleh: Drs Suprayitno | September 28, 2009

Kisah KH. ABU MANSUR PENGIKUT PANGERAN MANGKUBUMI

KH. ABU MANSUR  PENGIKUT PANGERAN MANGKUBUMI
( HAMENGKUBUWONO.I )  OLEH: H. NURCHOLIS

Desa Tawangsari terletak di bagian barat kabupaten Tulungagung. Dahulu termasuk daerah berstatus Perdikan Mutihan . Desa tersebut talah menyimpan sejarah panjang seorang tokoh yang sangat berjasa atas pertumbuhan dan perkembangan Kadipaten Ngrowo, sekarang bernama Kabupaten Tulungagung. Tokoh tersebut bernama Kyai Haji Abu Mansur.

KH. Abu Mansur, menurut penelitian Bapak Kyai Komaruz Zaman, imam masjid Tawangsari dan masih keturunan KH Abu Mansur, beliau keturunan adipati Cakraningrat dari Madura yang belajar Agama Islam (menjadi santri) kepada Kyai Ageng Muhammad Besari di Tegalsari, Jetis, Ponorogo. Nama kecil KH. Abu Mansur adalah Bagus Qosim. Beliau mempunyai 4 putra, yaitu; Kyai Yusuf ( Martontanu / Abu Mansur 2), Kyai Ilyas Winong, Nyai H. Muhsin dan Nyai Djodikromo.

Dalam geger Pecinan semula Sunan Pakubuwono 2 (1727-1749) membantu orang- orang Cina melawan VOC. Setelah orang- orang Cina dapat dikalahkan VOC, Pakubuwono 2 berbalik memihak VOC. Melihat sikap Pakubuwono 2 berbalik kepada VOC, Mas Garendi (cucu Sunan Mas) dengan didukung oleh rakyat memberontak dan berhasil menguasai Keraton Surakarta kemudian diangkat menjadi Sunan Kuning. Pakubuwono 2 terpaksa menyingkir mencari perlindungan kepada Kyai Ageng Mohammad Besyari di Ponorogo. Dengan mendapat bantuan dari Kompeni dan Kyai Ageng Muhammad Besyari beserta murid- muridnya, termasuk KH. Abu Mansur, Pakubuwono 2 dapat menduduki tahta kembali pada tahun 1668 Jawa / 1743 Masehi.

Atas jasanya mengembalikan kedudukan Pakubuwono 2 menjadi raja di Surakarta inilah maka Kyai Ageng Muhammad Besyari mendapat tanah perdikan di Tegalsari , Jetis Ponorogo dan KH. Abu Mansur mendapat hadiah tanah perdikan di Tawangsari Tulungagung pada tahun 1672 Jawa/ 1747 Masehi

Pada waktu Sunan Pakubuwono 3 memerintah Kerajaan Mataram (1749-1788) menggantikan ayahnya, Sunan Pakubuwono 2, mendapat perlawanan kuat dari pamannya, Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said . Karena pemberontakan sulit di padamkan, maka diadakan perjanjian Giyanti (1755) yang salah satu isinya adalah Pangeran Mangkubumi diangkat menjadi Raja di Yogyakarta dengan mendapat gelar Sultan Hamengkubuwono 1.

Perjuangan Pangeran Mangkubumi mendapatkan tahta Kerajaan di Yogyakarta tersebut mendapat bantuan dari Kyai Ageng Muhammad Besyari (Kyai Basyariyah) dan murid- muridnya, termasuk KH. Abu Mansur. Karena Kyai Ageng Muhammad Besyari dan KH. Abu Mansur sepaham dan menjadi pengikut Pangeran Mangkubumi dalam hal melakukan perlawanan terhadap VOC. Karena jasanya dalam membantu Pangeran Mangkubumi memperoleh kedudukan sebagai Raja Yogyakarta, maka Pangeran Mangkubumi memperkuat kedudukan KH. Abu Mansur sebagai penguasa di Tawangsari dengan memberi surat tugas atas nama Pangeran Mangkubumi tahun 1770 Masehi.

Layang kekancingan (surat tugas) dari Pangeran Mangkubumi kepada KH. Abu Mansur tersebut sebagai berikut:

“Ingkang dihin salam ingsun marang siro Abu mansur.

Pakeniro ingsun maringi panguwoso merdiko marang siro, yoiku tanah iro sarehiro kanggo sak turun- turun iro.

Ingkang dihin ingsun maringi panguwoso marmane, lan ingsun maringi nawolo ingsun paparentahan kang mardiko.

Sing sopo nora angestokno, amaido, iku banjur hunjukno marang ingsun, bakal ingsun palaksono hono alun- alun ingsun, sakehing nayokoningsun.

Asmo dalem Mangkubumi dawuh pangandiko dalem sinangkalan Buto Ngerik Mongso Jalmi”.

Terjemahan bebas dari layang kekancingan tersebut adalah

“Pertama- tama salamku kepada Abu Mansur.

Atas perintahku kuberi kamu kekuasaan tanah merdeka, yaitu tanah dan daerah yang kamu kuasai semua untuk kamu dan semua keturunanmu.

Itulah sebabnya aku memberi kekuasaan lebih dahulu dan kuberikan suratku (sebagai penguat) pemerintahan yang merdeka

Barang siapa tidak melaksanakan, mencela, laporkan kepadaku akan kuberi hukuman di alun- alun saya (disaksikan) oleh semua pejabat- pejabatku.

Atas nama perintah Mangkubumi, dengan diberi tanda waktu Buto Ngerik Mongso jalmi”.

Surat tersebut ditulis dengan huruf Jawa, bersetempel merah, atas nama Pangeran Mangkubumi dan aslinya disimpan oleh keturunan KH. Abu Mansur. Sengkalan “Buto Ngerik Mongso Jalmi” tersebut menunjukkan tahun pembuatan atau dikeluarkannya surat. Namun ada beberapa penafsiran terhadap sengkalan tersebut, terutama pada kata “Ngerik”. Buto= 5, Ngerik jika diberi makna “lar” (bulu)= 2, jika diberi makna “muni” (bersuara)= 7, jika diberi makna “nggangsir” (jangkrik)= 9, Mongso= 6 dan Jalmi= 1. Jika dibaca dari belakang, sengkalan Buto Ngerik Mongso Jalmi tersebut menunjuk tahun 1625 / 1675 / 1695 tahun Jawa. Kemudian jika dikonversi ke tahun masehi menjadi tahun 1700/ 1750/ 1770. Dalam sejarah disebutkan Pangeran Mangkubumi memerintah Kerajaan Yogyakarta (Hamengkubuwonbo.1)antara tahun 1755- 1792, maka penafsiran atas sengkalan tersebut lebih tepat menunjuk tahun 1770 Masehi, lima belas tahun setelah mendapat kedudukan sebagai Hamengkubuwono 1. Karena sebelum Mangkubumi menjadi Sultan Yogyakarta, Kadipaten Ngrowo di bawah kekuasaan Kasunanan Surakarta. Dengan adanya perjanjian Gianti (1755) ada pembagian wilayah kekuasaan dan Kadipaten Ngrowo menjadi wilayah kekuasaannya Kasultanan Yogyakarta.

Sedangkan layang kekancingan (surat) dari/ atas nama Sunan/ Keraton Surakarta isinya sebagai berikut:

“Tetedakan nawolo dalem , asmo dalem.

Ingsun maringi bumi marang Kyai Abu Mansur, siji- sijining deso Majan, Winong, Tawangsari.

Marmane ingsun paringi gegadhuhan bumi, dene ingsun dhawuhi andedongo nyuwunake slamet kagunganingsun keraton ing Surokarto.

Marmane sapungkuringsun sopo kang nyekel tanah Jowo darah ingsun kang jumeneng noto nglestarekno peparing ingsun marang Kyai Abu Mansur tumeko saturun- turune.

Pepacuhan- pepacuhan kawulaningsun kabeh podo angestokno saunining nawoloningsun.

Sing sopo ora angestokno tanapi amaido kalaksono sakehing nayakaningsun ono alaun- aluningsun.

Ingsun dhawuh pangandiko dalem.

Kaping, 15 Mulud 1672”.

Terjemahan bebas layang kekancingan dari keraton Surakarta tersebut :

“Surat dari saya atas nama saya.

Saya memberi tanah kepada Kyai Abu Mansur, masing- masing desa Majan, Winong dan Tawangsari.

Makanya saya memberi hak guna tanah, dan saya perintah berdoa memintakan keselamatan keraton saya di Surakarta.

Setelah saya, siapa yang memerintah tanah Jawa (hendaknya) melestarikan pemberian saya kepada Kyai Abu Mansur sampai keturunannya.

Segenap aturanku, semua pejabatku hendaklah mentaati bunyi surat saya.

Barang siapa tidak mentaati atau mencela mendapat hukuman dari pejabat- pejabatku di alun- alun.

Saya ucapkan ucapan saya.

Pada, 15 Mulud 1672.

Layang kekancingan tersebut aslinya disimpan oleh Kyai Komaruz Zaman, imam masjid Tawangsari sekarang. Ditulis dengan huruf Jawa, tidak distempel dan tidak ditanda tangani. Tahun yang tertera di surat tersebut (15 Mulud 1672) menunjukkan tahun Jawa. Jika dikonversi ke tahun masehi menjadi tanggal, 15 Mulut 1747 Masehi.

Ada dua layang kekancingan (surat) yang pernah diterima KH. Abu Mansur, namun tahunnya berbeda. Yang atas nama Kerajaan Surakarta, Pakubuwono 2, pada 15 Mulud 1672 Jawa/ 1747 Masehi dan atas nama Pangeran Mangkubumi tahun 1695 Jawa/ 1770 Masehi. Ada kemungkinan surat pertama (1672.J/ 1747.M) diberikan oleh Pakubuwono 2 yang menjabat sebagai raja tahun 1727-1749 sebelum Keraton Surakarta dipecah menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta pada waktu perjanjian Gianti tahun 1755. Sedang surat kedua 1695 Jawa/ 1770 Masehi diberikan oleh Mangkubumi setelah 15 tahun menjadi Sultan Yogyakarta. Mangkubumi menjadi Sultan Yogyakarta tahun 1755- 1792 Masehi.

Namun ada juga kemungkinan penafsiran yang berbeda. Bahwa layang kekancingan (surat) dari Mangkubumi kepada KH. Abu Mansur tersebut ditafsirkan tahun 1675 Jawa/1750 Masehi. Dengan alasan surat tersebut atas nama Mangkubumi, bukan atas nama Hamengkubuwono 1. Dengan demikian Mangkubumi mengeluarkan surat tersebut sebagai wakil/ sekretaris raja yang membidangi masalah administrasi kerajaan menguatkan surat pertama yang dikeluarkan tahun 1672 jawa/ 1747 Masehi oleh Pakubuwono 2 yang belum ditanda tangani dan belum distempel yang dikeluarkan 4 tahun setelah menduduki tahta kembali dari kekuasaan Sunan Kuning pada tahun 1743 Masehi.

Dengan adanya perjanjian Gianti tahun 1755 M, wilayah kekuasaan kerajaan Surakarta dibagi menjadi dua atas dasar jumlah penduduk dan tingkat kesuburan wilayah. Pembagian tersebut sebagai berikut;

Kasunanan Surakarta dengan raja Sunan Pakubuwono 3 mendapat bagian wilayah; daerah Djagaraga, Ponorogo, separonya (setengahnya) Pacitan, Kediri, Blitar, Srengat, Lodoyo, Pace, Nganjuk, Brebek, Wirosobo (Modjoagung), Blora, Banyumas dan Keduang. Sedangkan jumlah penduduk di Kasunanan Surakarta 85.350 jiwa.

Kasultanan Yogyakarta dengan raja Mangkubumi (Hamengkubuwono 1) mendapat bagian wilayah; Daerah Madiun, Magetan, Caruban, setengahnya Pacitan, Kertosono, Kalangbret (Ngrowo), Japan (Mojokerto), Jipang (Bojonegoro), Teras, Keras, Ngawen dan Grobogan. Sedangkan jumlah penduduk Kasultanan Yogyakarta 87.050 jiwa.

Jasa- jasa KH. Abu Mansur terhadap kadipaten Ngrowo/ Tulungagung diantaranya adalah:

.1. Beliau telah berdakwah di Kadipaten Ngrowo, khususnya Desa Tawangsari, Majan dan Winong. Ke tiga desa tersebut sejak dahulu hingga sekarang lebih dikenal sebagai daerah santri. Benda- benda purbakala peninggalan beliau berupa masjid Tawangsari, Winong dan Majan sampai saat ini masih bisa kita saksikan walaupun sudah mengalami beberapa kali renovasi.

2. Beliau telah melatih ilmu kanuragan kepada masyarakat ketiga desa tersebut. Di tahun enam puluhan, ke-tiga desa tersebut terkenal pencak silatnya. Setiap ada lomba pencak silat, pemuda- pemuda ke- tiga desa tersebut selalu ambil bagian. Bahkan banyak pondok pesantren yang ada di pelosok desa se- Tulungagung banyak yang mendatangkan guru bela diri/ pencak silat dari ke-tiga desa tersebut.

3. Di dalam buku “Babat dan Sejarah Tulungagung” disebutkan bahwa ketika Kadipaten Ngrowo hendak membangun alun- alun, KH. Abu Mansur ikut andil dalam pembangunan tersebut. Pada waktu itu tempat yang rencananya akan dibangun alun- alun masih berupa rawa- rawa. Di rawa- rawa tersebut ada sumber air yang terus mengeluarkan air dan sulit dibendung. Ternyata, atas jasa KH. Abu Mansur , sumber air tersebut dapat dihentikan hingga seperti alun- alun yang sekarang ini.

4. KH. Abu Mansur telah berhasil menanamkan jiwa nasionalisme yang kuat pada rakyat ke- tiga desa tersebut. Ke-tiga desa tersebut sangat membenci terhadap penjajah Belanda maupun Jepang. Rasa nasionalisme yang ditanamkan oleh KH. Abu Mansur kepada rakyat Ngrowo dilandasi oleh semangat ajaran Agama Islam. Mungkin, karena semangat mempertahankan ajaran Islam inilah ketika terjadi peristiwa G.30. S, banyak sakerah- sakerah (pendekar Muslim yang berpakaian ala Madura) yang gagah berani dari masyarakat ke-tiga desa tersebut.

Demikianlah sekilas sejarah tentang kehidupan KH. Abu Mansur pada masa lalu. Semoga amal beliau dalam membimbing masyarakat Majan, Winong dan Tawangsari khususnya dan Kadipaten Ngrowo pada umumnya diterima oleh Allah dan mendapat balasan yang setimpal. Khusus masyarakat ke-tiga desa tersebut tidak ada jeleknya jika senantiasa mengenang jasa- jasa beliau dan berupaya melanjutkan perjuangannya. Sekalipun sekarang ke-tiga desa tersebyt sudah bukan lagi berstatus tanah perdikan, tidak ada jeleknya jika mengadakan kegiatan yang dapat mengenang jasa- jasa KH. Abu Mansur.

home

KHR. ABDUL FATTAH MANGUNSARI PENEMU MAKAM BEDALEM DAN TAMBAK
OLEH: H. NURCHOLIS

Dalam bahasa Jawa ada pepatah “Kacang ora ninggalne lanjaran”. Sifat, jasmaniyah dan prilaku anak biasanya tidak jauh berbeda dengan sifat, jasmaniyah dan prilaku yang dimiliki orang tuanya. Kadang – kadang sifat, jasmaniyah dan prilaku anak itu diwarisi dari ibunya dan kadang dari ayahnya. Demikianlah yang terjadi pada sosok KHR. Abdul Fattah, pendiri pondok pesantren Al- Fattah Mangunsari Tulungagung, mempunyai daya juang yang tinggi sebagimana yang dimiliki ayah dan ibunya. Perjuangan dan pengabdian KHR. Abdul Fattah dalam menegakkan Agama Islam dapat dilihat pada buku “Wiroh KHR. Abdul Fattah”.

KHR. Abdul Fattah lahir pada Kamis Pon, 11 Syawal 1290 H/ 1872 M di Mangunsari Kedungwaru Tulungagung. Wafat pada hari Selasa Pon, 3 Robiul Akhir 1372 H ( 29 Nopember 1954 M) dan dimakamkan di barat masjid pondok Mangunsari, sehari setelah meninggalnya, pada hari Rabu Wage, 4 Robiul Akhir 1372 H (30 Nopember 1954 M).

Dari garis ayahnya, KHR. Abdul Fattah putra KH. Hasan Tholabi Mangunsari Tulungagung. Beliau keturunan ke 14 dari Sayyid Nawawi (Sunan Bayat/ Sunan Pandanaran/ Ihsan Nawawi, Solo) dan keturunan Rasulullah Saw ke 31. Sedangkan ibunya bernama Nyai Dokhinah, buyutnya Prawiro Projo, patih Ponorogo ke 5. Nama asli KHR. Abdul Fattah adalah Muhammad Ma’ruf. Sebenarnya nama Abdul Fattah itu adalah nama kecil teman akrabnya dari Popongan Jawa Tengah. Beliau berdua sangat akrab ketika masih belajar di pondok pesantren Jamsaren Solo. Untuk melestarikan hubungan tersebut beliau berdua saling tukar nama semenjak pergi menunaikan ibadah haji sebagi rukun Islam ke lima.

KHR. Abdul Fattah seorang ulama yang menguasai berbagai bidang ilmu agama Islam yang diperoleh dari berbagai ulama. Beliau belajar ilmu tauhid kepada KH. Imam Bahri, PP Mangunsari, Pace Nganjuk. Belajar ilmu tasawwuf kepada K. Zaenuddin, PP Mojosari, Loceret Nganjuk. Belajar ilmu Fiqh kepada KH. Zaenuddin, PP Cempaka, Brebek Nganjuk. Belajar ilmu tafsir kepada KH. Idris, PP Jamsaren Solo. Belajar ilmu Hadits kepada KH. Hasyim Asy’ari, PP Tebuireng Jombang. Belajar ilmu Nahwu (Gramatika) kepada KH. Kholil, Bangkalan Madura. Belajar Al Qur’an kepada KH. Munawir, PP Krapyak Yogyakarta. Dan belajar berbagai bidang ilmu agama Islam kepada KH. Sayyid Zein dan KH. Mahfudz At- Turmusy di Masjidil Haram Makkah Saudi Arabia. Waktu yang dihabiskan KHR. Abdul fattah untuk belajar berbagai ilmu agama Islam di berbagai pondok pesantren tersebut selama 24 tahun.

Pada masa penjajahan Jepang, ulama- ulama di Tulungagung banyak yang ditangkap oleh Jepang. Diantaranya adalah KHR. Abdul Fattah (Mangunsari), Kyai Syarif (Majan), Kyai Mustaqim (Kauman) dan lainnya. Mereka disiksa dengan berbagai macam penganiayaan; dipukul, disetrum listrik, dimasukkan ke kandang ular, ditenggelamkan ke dalam bak air, disulut dengan api rokok dan berbagai penyiksaan lainnya. Mereka tetap tabah menjalani penyiksaan di dalam tahanan Jepang. Tidak henti- hentinya mereka selalu membaca kalimat thoyyibah; subhanallah, astaghfirullah, masya-Allah, la haula wala quwwata illa billah dsb. KHR.Abdul Fattah ditahan Jepang jam 8 pagi. Di dalam tahanan selama 9 bulan. Pulang dari tahanan hari Senin dan Selasanya sudah mulai mengajar santri- santrinya.

Karomah KHR. Abdul Fattah.

Karomah adalah keistimewaan yang diberikan oleh Allah kepada hamba- hambanya yang dekat dengan Allah dan selalu digunakan untuk kebaikan dan kemaslahatan umat. Kebalikan dari karomah adalah istijrod, yaitu kelebihan yang dimiliki hamba Allah yang jauh dari Allah dan biasanya selalu digunakan untuk tujuan- tujuan yang tidak baik. KHR. Abdul Fattah adalah termasuk hamba yang selalu mendekatkan diri kepada Allah. Oleh karena itu beliau mempunyai beberapa karomah, diantaranya adalah :

1. Setiap hari Senin dan Jum’at beliau biasanya membaca sholawat dziba’ rotibul hadad, tahlil dan dzikir bersama- sama dengan santri . Pada suatu ketika, setelah melakukan amal- amalan bersama santri, beliau membagi makanan dan minuman yang dipersiapkan sendiri. Yang membuat para santri heran adalah nasi yang disediakan hanya satu belanga dan satu kendi minuman, namun nasi dan minuman tersebut bisa mencukupi hadirin yang jumlahnya ratusan dan itupun masih tersisa.

2. Pada suatu hari Kyai Khobir bercerita: Kyai Khobir dan bapak Wardud mengantarkan makanan beserta lauk pauknya ke tempat KHR. Abdul Fattah. Beliau hanya mengambil setengah dari makanan yang dihidangkan dan yang setengah lagi disuruh membawa pulang. Setelah sampai di rumah, ternyata makanan yang tadinya tinggal separo kembali utuh seperti semula.

3 Menurut cerita H. Tholhah Josermo (Surabaya), disaat KHR. Abdul Fattah bermukim di pondok Mangunsari Pace Nganjuk, pada suatu malam Kyai Imam Bahri (ayah gus Mundir) melihat cahaya yang bersinar cemerlang dari kamar KHR. Abdul Fattah yang sedang tidur di dalamnya. Akhirnya disaat itu pula KHR. Abdul Fattah dibaiat sebagai thoriqoh kholwatiyah oleh Kyai Imam Bahri, pimpinan pondok Mangussari Pace Nganjuk.

4. Pada suatu hari ada orang melihat KHR. Abdul Fattah sedang sholat Jum’at di masjid Tawangsari, namun orang lain bercerita melihat beliau, pada hari Jum’at yang sama, sholat Jum’at di masjid tiban Sunan Kuning Macanbang Gondang. Sehingga keberadaan beliau tersebut menjadi pembicaraan para santri pondok.

5. KH. Hasyim Asy’ari Jombang (waktu itu sebagai ketua PB NU) ingin menemui KHR. Abdul Fattah yang sedang berkhalwat. Sebelumnya menemui Kyai Siroj untuk menanyakan bagaimana cara menemui KHR. Abdul Fattah. Oleh Kyai Siroj diminta menulis di sabak (papan kecil untuk menulis) nama dan keperluannya kemudian dimasukkan lewat pintu tempat berkhalwat. Jika KHR. Abdul Fattah berkenan menerima biasanya sabak diambil dan diberi jawaban “Salam dan doa semoga maksud dan tujuan dikabulkan dan diridhoi Allah”, dan jika belum berkenan menerima sabak tidak diambil. Ternyata sabak tidak diambil, kemudian KH Hasyim Asy’ari kembali meneruskan perjalanannya bersilaturrahmi kepada Kyai Zarkasyi dan Gus Qomaruddin Kauman Tulungagung. Diwaktu yang sama, KHR Abdul Fattah menemui Gus Wahid Hasyim (putra KH Hasyim Asy’ari) di Jombang menyatakan ingin menemui ayahnya. Dikatakan oleh Gus wahid bahwa ayahnya pergi ke Tulungagung ingin bersilaturrahmi kepada Gus Ma’ruf (nama asli KHR. Abdul Fattah). KHR. Abdul Fattah tidak bersedia masuk rumah, tapi istirahat di masjid menunggu sampai KH. Hasyim Asy’ari datang dari Tulungagung. Selang beberapa waktu yang ditunggu datang dan menceritakan kisah perjalanannya dari Tulungagung. KHR. Abdul fattah menjawab: “Sebetulnya yang harus datang aku kepada Kyai, bukan malah kyai datang kepadaku”.

Jasa- jasa KHR. Abdul Fattah

1. Penemu Makam Bedalem.

KHR. Abdul Fattah sebagai perintis dan pelopor penggalian benda bersejarah, terutama makam- makam kuno. Beliaulah yang menemukan dan menggali makam Bedalem Campurdarat yang didalamnya dimakamkan pejuang- pejuang Islam, yaitu Pangeran Benowo, Raden Patah dan Dampu Awang. Setelah ditemukan makam Bedalem beliau menyuruh Kyai Maklum untuk merawat makam dan mempelopori dakwah Islamiyah di Campurdarat. Disamping itu beliau juga mendirikan masjid di Bedalem.

home

Oleh: Drs Suprayitno | September 28, 2009

Sejarah DESA LAWADAN

BUMI LAWADAN

Adalah sebuah kabupaten di Jawa Timur, Indonesia. Kabupaten Tulungagung dibatasi oleh Kabupaten Blitar di sebelah timur, Kabupaten Trenggalek disebelah barat, Kabupaten Kediri di sebelah utara dan Samudra Hindia di sebelah selatan. Secara administratif, Kabupaten Tulungagung terbagi dalam 19 kecamatan, 257 desa, dan 14 kelurahan. Kecamatan tersebut adalah Bandung, Besuki, Boyolangu, Campurdarat, Gondang, Kalidawir, Karangrejo, Kauman, Kedungwaru, Ngantru, Ngunut, Pagerwojo, Pakel, Pucanglaban, Rejotangan, Sendang, Sumbergempol, Tanggung Gunung, Tulungagung.

Bagian barat laut Kabupaten Tulungagung merupakan daerah pegunungan yang merupakan bagian dari pegunungan Wilis-Liman-Limas. Bagian tengah adalah dataran rendah; dan bagian selatan adalah pegunungan yang merupakan bagian dari rangkaian Pegunungan Kidul. Tulungagung adalah salah satu penghasil marmer terbesar di Indonesia, yakni di daerah campurdarat & besole. Pantai Popoh, merupakan obyek wisata pantai di Laut Selatan yang cukup terkenal.

Dahulu kala Tulungagung terkenal dengan daerah rawa-rawa, yang lebih dikenal dengan nama Bonorowo/ngrowo (rowo=rawa). Bekas rawa-rawa tersebut kini menjadi wilayah kecamatan Campurdarat, Boyolangu, Pakel, Besuki, Bandung, Gondang. Dalam prasasti Lawadan,terletak di sekitar Desa Wates Kecamatan Campurdarat, yang dikeluarkan pada Jum’at Pahing 18 Nopember 1205 disebutkan bahwa Raja Daha yang terakhir yaitu Sri Kretajaya merasa berkenan atas kesetiaan warga Thani Lawadan terhadap raja ketika terjadi serangan musuh dari sebelah timur Daha. Tanggal tersebut kemudian digunakan sebagai hari jadi tulungagung. Pada Prasasti Lawadan dijelaskan juga tentang anugrah Raja Kertajaya berupa pembebasan dari berbagai pungutan pajak dan penerimaan berbagai hak istimewa kepada DWAN RI LAWADAN TKEN WISAYA, atau dikenal dalam cerita sebagai DANDANG GENDHIS. Di jaman majapahit, Bonorowo dipimpin oleh seorang Adipati yang bernama adipati kalang. Adipati kalang tidak mau tunduk pada kekuasaan majapahit, yang berujung pada invasi mojopahit ke bonorowo. Adipati kalang dan pengikutnya yang berjuang dengan gagah berani akhirnya tewas dalam pertempuran didaerah yang sekarang disebut kalangbret dikecamatan Kauman.

Di Jaman penjajahan jepang, tulungagung dijadikan base pertahanan jepang untuk menangkal serangan sekutu dari australia serta sebagai benteng pertahanan terakhir untuk menghadapi serangan dari arah utara. Pada masa itu ratusan ribu romusa dikerahkan untuk mengeringkan rawa-rawa tulungagung membuangnya ke pantai selatan dengan membuat terowongan air menembus dasar gunung Tanggul, salah satu gunung dari rangkaian pegunungan yang melindungi Tulungagung dari dasyatnya ombak pantai selatan, yang terkenal dengan sebutan terowongan ni yama. Terowongan tersebut sekarang dijadikan PLTA Tulungagung.

Tulungagung sekarang terkenal dengan kerajinan Marmer dan onyx, di Kecamatan Campurdarat, Batik di Tulungagung, Majan dan Kauman. Tenun Perlengkapan Militer dengan standart NATO di Kecamatan Ngunut. Konveksi dan Bordir Garmen, busana muslim, sprei, sarung bantal, rukuh dsb. Ikan Hias yang memenuhi pasar nasional dan eksport. ikan konsumsi ( Perikanan darat dan laut ). Makanan khas tulunguagung antara lain Lodho Ayam, Nasi Pecel, sompil, jajanan seperti kacang Shanghai, giti, jongkong, ireng-ireng, sredeg, cenil, plenggong. Minuman khas seperti kopi cethe, Wedang jahe sere, dawet caon, rujak uyub, beras kencur. Tulungagung adalah base camp ketoprak “Siswo Budoyo”, kesenian kentrung, jaranan, dan reog tulungagung.

home

Oleh: Drs Suprayitno | September 28, 2009

Sejarah LABUH SEMBONYO

LABUH SEMBONYO

Tradisi labuh laut larung sembonyo di Pantai Popoh di Desa Besole, Kecamatan Besuki, digelar kemarin. Meski sederhana namun para nelayan bersemangat saat melarung sesajen ke laut bebas di selatan Pulau Jawa tersebut.

Labuh laut dimulai sekitar pukul 09.00. Sebelum melarung sesaji ke laut bebas, terlebih dulu dilakukan genduri. Yaitu memohon berkah dari Yang Maha Kuasa. Pembacaan doa dengan bahasa Jawa atau biasa disebut ujub, dipimpin sesepuh Desa Besole Wagiyo

Usai berdoa, warga sekitar yang mayoritas nelayan itu lalu berebut sesaji yang diperuntukkan untuk makan bersama. Karena kurang cepat, tak sedikit warga yang tidak kebagian nasi berikut lauk pauknya.

Tradisi rebutan dalam larung sembonyo tidak hanya di darat. Tapi juga di laut. Bahkan hingga dua kali rebutan yang dilakukan para nelayan saat di laut. Pertama, saat sesaji berupa kepala kambing, kulit dan kaki dibuang ke laut. Kedua, saat sepuluh itik yang dilempar hidup-hidup oleh para nelayan.

“Semua sesaji yang dilarung ke laut itu persembahan dari para nelayan dari ketiga kecamatan. Yaitu, Kecamatan Besuki, Campurdarat dan Bandung,” jelas Wagiyo.

Larung sembonyo yang diikuti puluhan perahu nelayan berakhir sekitar pukul 11.30. Selanjutnya, warga menggelar pagelaran kesenian jaranan. Pada malam harinya dilanjutkan tayuban. Kedua kesenian tradisional itu digelar di tempat pelelangan ikan (TPI).

” Saat melakukan serangkaian ritual labuh laut, para nelayan tidak diperkenankan untuk melaut selama 24 jam. Ini diawali dari malam labuh laut hingga siang harinya,”

home

Oleh: Drs Suprayitno | September 28, 2009

Sejarah KISAH DESA LAWADAN

KISAH DESA LAWADAN

Desa Lawadan yang sekarang tinggal cerita, besar sekali andilnya terhadap kabupaten Tulungagung. Dahulu, di desa ini ada ritual menyusui siluman buaya putih untuk mengusir bencana. Seperti apa kisahnya…?

Di daerah Tulungagung banyak terdapat peninggalan sejarah purbakala. Sekitar 63 buah peninggalan berupa benda bergerak dan tidak bergerak. Di antaranya peninggalan tersebut adalah 26 prasasti, 24 diantaranya batu. Salah satunya adalah prasasti Lawadan. Karena terletak di Desa Lawadan, yang sekarang berubah nama jadi Wates Campurdarat.

Prasasti yang bertanggal 18 November 1205, hari Jum’at Pahing tersebut dikeluarkan oleh Prabu Srengga, raja terakahir kerajaan Daha, yang juga dikenal dengan nama Prabu Dandanggendis. Prasasti tersebut berisi pemberian keringanan pajak dan hak istimewa semacam bumi perdikan atau sima.

Alasan pemberian “hadiah” tersebut adalah karena jasa prajurit Lawadan yang sudah memberikan bantuan kepada kerajaan mengusir musuh dari timur, sehingga raja yang tadinya telah meninggalkan kraton dapat kembali berkuasa.Desa Lawadan yang sekarang tinggal cerita, besar sekali andilnya terhadap kabupaten Tulungagung. Makanya, ketika masih berwujud rawa, orang-orang di sana mudah mencari uang, yakni dengan cara mencari ikan yang dapat dijual dan jadi uang. Karena itu, pada umumnya orang-orang di sana semua kaya, rumahnya besar-besar, tiangnya kayu jati glendeng.

Setiap pagi, sarapannya ikan bakar yang dimasukkan bumbung. Kalau istirahat siang, biasa tiduran di atas lantai yang terbuat dari sesek bambu. Uniknhya, bisa tiduran sambil mengintip ikan yang berkejar-kerajan. Sorenya, sambil menanti matahari terbenam, dihabiskan dengan berperahu mencari bunga teratai dan kul.

Sedangkan kalau mempunyai hajat apa saja, baik menikahkan atau mengkhitankan anaknya, hiburannya kesinian tayup. Terkadang tamunya siluman Bajul Putih. Karena siluman Bajul Putih itu kesenangannya menari dengan waranggana. Apalagi aturan tayup pada waktu itu bebas, minta gending atau lagu apa saja boleh, memasukkan uang ke sela payudara waranggana sambil memegangnya juga tidak dilarang.

Apalagi kalau yang memasukkan uang tersebut siluman Bajul Putih, tidak ada waranggana yang tidak senang. Disamping mendapatkan uang, payudaranya juga bisa berubah jadi berisi, padat, kenyal, dan indah. Tapi sayangnya, tidak semua waranggana bisa mendapatkan hal ini.

Konon, pada masa itu tidak sedikit waranggana yang sengaja membiarkan semua lelaki meremas-remas payudaranya. Bahkan tidak hanya itu, tapi juga ada yang sampai mau meneteki segala. Alasannya masuk akal, siapa tahu diantara lelaki itu siluman Bajul Putih.

Kenapa bisa begitu? Konon menurut ceritanya, siluman Bajul Putih itu tidak hanya menyukai kesenian tayup, tapi juga suka dengan payudara yang masih kencang. Makanya, siluman Bajul Putih itu lebih suka memilih payudara waranggana yang masih perawan. Begitulah kisah-kisah di masa lalu.

Ketika Penulis melakukan investigasi kesana, bekas Desa Lawadan, baru saja terkena musibah besar. Orang Jawa mengatakan “kena pageblub”. Pertengahan November 2007 kemarin, warganya sejumlah 170 orang, terkena penyakit chikungunya. Karena pageblug ini ada seorang warga yang usul kepada sesepuh desa agar mengadakan upacara ritual telanjang dada.

Usulan tersebut agaknya karena terinspirasi pada kisah lama, sewaktu Desa Lawadan masih berwujud rawa. Bila kena musibah besar, cara mengatasinya gampang. Para wanita, baik yang masih perawan maupun yang sudah menyusui, berbondong-bondong pergi ke gundukan untuk mengadakan ritual telanjang dada.

Konon, setelah wanita-wanita itu menyusui siluman Bajul Putih, musibah yang melanda desa pun langsung hilang.

Begitu juga ketika prajurit Lawadan mengusir musuhnya. Isteri-isteri prajurit tersebut juga pergi ke gundukan untuk menyusui siluman Bajul Putih.

Karena usulan tersebut, para sesepuh desa kemudian berkumpul. Setelah usulan tadi dimusyawarahkan, kemudian merancang ritual apa yang sesuai. Akhirnya disepakati kalau mereka akan mengadakan upacara ritual menyusui.

Sebelum upacara ibu menyusui dilaksanakan, didahului dengan upacara sesaji yang dilaksanakan pagi hari. Yang membawa sesaji para gadis yang berpakaian bak putrid kraton tempo dulu. Rombongan ini diarak keliling desa. Setelah itu, malamnya baru dilaksanakan upacara ritual ibu menyusui.

Mereka tidak harus telanjang dada, hanya cukup tidak mengenakan BH. Sehingga dari belakang masih terlihat memakai baju. Tapi kalau dilihat dari depan, baru tampak payudaranya dibiarkan terbuka. Kemudian salah satu dari mereka ada yang mendapat bisikan halus, “Kalau ingin selamat, tolong semua warga mengadakan syukuran di perempatan jalan!”

Maka dari itu, untuk memperingati lahirnya tahun Saka yang jatuh pada hari Kamis Pahing, tanggal 10 Januari 2008, oleh warga desa yang mengaku wong Lawadan, diadakan upacara adat baritan.

Memang, setiap tahun, tepatnya pada tanggal 1 Sura, wong Lawadan yang tinggal di Desa Wates, kecamatan Campurdarat pasti mengadakan upacara adat baritan. Yaitu, syukuran yang diadakan di perempatan-perempatan jalan desa. Tahun ini uborampe lebih komplit dibanding dengan uborampe untuk upacara adat baritan tahun-tahun sebelumnya.

Kenapa? Menurut keterangan Purwari, karena belum lama ini (pertengahan Nopember 2007) warga desa Wates sejumlah 170 orang baru saja terkena penyakit chikungunya. Maka uborampe untuk upacara adat baritan pada hari Rabu, tanggal 9 Januari 2008 kemarin dikomplitkan. Kalau uborampe tahun-tahun sebelumnya hanya takir plontang, jenang sura, jenang mancawarna, jenang abang, sega punar, sega mule, mas agung, gula gimbal, gula gringsing, pisang, buceng robyong, dan lada sega gurih (sekul suci ulam sari). Tahun ini (2008), ubarampenya kemudian ditambahi cok bakal, sajen, kembang setaman, buceng sewu, sega urap, pala kependem, pala gemandul, padi, dan kembar mayang.

Upacara adat baritan tersebut dilaksanakan setelah Maghrib. Seluruh masyarakat Desa Wates keluar dari rumah, dan berkumpul diperempatan jalan desa. Untuk ibu-ibu sambil membawa takir plontang berisi berbagai hidangan dan sesaji. Diantaranya jenang sura, buceng kuat dan ingkung.

Takir plontong adalah tempat nasi dan lauk pauk terbuat dari daun pisang diatasnya diberi janur. Sesaji dan hidangan tersebut diletakkan di kerumunan masyarakat. Dan hidangan itu bisa dinikmati, ketika sesepuh desa Wates usai memberi doa.

“Kalau sudah dihajatkan, masyarakat bisa menyantap hidangan itu,” ungkap Purwari.

Sebelum acara baritan itu dimulai, Rabu pagi, pemuda desa Wates mengadakan berbagai persiapan. Seperti, membersihkan desa, merangkai janur yang digunakan hiasan di setiap perempatan. Tidak hanya itu, para pemuda juga membuat dimar (lampu terbuat dari pohon bambu diberi minyak tanah).

“Dimar itu kami namakan dimar sewu, meski kadang jumlahnya tidak seribu,” ujar Purwari.

Dimar yang dipasang diperempatan tersebut, dinyalakan ketika menjelang petang. Dimar itu tidak hanya dipasang disatu perempatan, tettapi di seluruh perempatan desa Wates, sebanyak 24 perempatan. Bapak-bapak yang membuat kembang mayang. Sedangkan ibu-ibu dan remaja puteri, ramai-ramai membuat takir plontang, beserta isi dan sesaji.

Takir-takir tersebut nanti dibagikan kepada masyarakat yang mengikuti upacara adat baritan. “Jadi mereka yang membuat juga yang menikmati,” katanya.

Purwari melanjutkan, rangkaian upacara adat baritan tidak hanya bersih desa, dan membuat takir plontang. Tetapi, juga ada sebagian masyarakat setelah shalat Subuh mengatamkan Al-Qur’an dibalai desa Wates.

Khataman Al-Qur’an ini berakhir sekitar pukul 15.00. Setelah itu, masyarakat tidak ada yang keluar rumah atau musholah. Begitu shalat Maghrib selesai, masyarakat tidak langsung berbondong-bondong keluar rumah dan menuju ke perempatan. Tetapi mereka menunggu bunyi kentongan yang dipukul kamituwa.

“Jadi saya setelah Maghrib langsung memukul kentongan, itu pertanda acara baritan dimulai,” jelasnya.

Mendengar bunyi kentongan tersebut, para pemuda, ibu-ibu, anak-anak, dan sesepuh desa langsung ke perempatan sambil membawa takir. Dan dimar sewu yang sudah dipasang pada pagi harinya langsung dinyalakan. Sedangkan malamnya, usai acara dilanjutkan, pagelaran kesenian uyon-uyon.

Purwari mengatakan, tujuan digelar baritan, selain untuk membersihkan desa dari segala mara bahaya. Seperti penyakit chikunguya. Juga punya makna mempererat silaturahmi antar penduduk. Arena dalam acara itu, seluruh elemen masyarakat berkumpul jadi satu.

“Mereka bisa berinteraksi antar satu dengan yang lain,” katanya.

Upacara adat baritan ini merupakan tradisi atau budaya yang dilaksanakan masyarakat desa Wates secara turun-temurun. Dan tradisi ini selalu digelar. Ketika tidak dilaksanakan, menurut kepercayaan masyarakat setempat, terjadi pageblug atau bencana

home

Oleh: Drs Suprayitno | September 28, 2009

Sejarah Hari Jadi Kota Tulungagung

SEJARAH HARI JADI TULUNGAGUNG

Hari jadi Kabupaten Tulungaung yang setiap tahun kita peringati pada tanggal 1 April termaktub dalam buku ¡°Sejarah dan Babad Tulungagung¡± dalam buku itu disebutkan bahwa bahwa tonggak hari jadi Tulungagung bertepatan dengan tanggal 1 April 1824 Masehi.

Angka tahun 1824 masehi rupa – rupanya didasarkan pada Candrasengkala Memet yang terdapat pada sepasang Arca Dwarapala yang berada di empat penjuru batas kota Tulungagung. Candra Sengkala tersebut berbunyi ¡° Dwi Rasekso Sinabdo Ratu ¡±yang menunjuk angka tahun jawa 1752.

Dengan berpedoman selisih waktu 72 tahun maka tahun jawa 1752 sama dengan tahun 1824 Masehi. Itulah sebabnya sampai dengan tahun 2002 yang lalu kita baru memperingati hari jadi Tulungagung ke-178.

Angka tahun 1824 Masehi juga ditafsirkan sebagai tanda dimulainya pembangunan pusat kota baru yang terletak di sebelah timur kali Ngrowo dan sekaligus menandai pusat Kabupaten Ngrowo ke Kabupaten Toeloengagoeng dengan dikeluarkan Besluit Gubernur Hindia Belanda Nomor : 8 tanggal 14 Januari 1901. Itulah sebabnya kita selalu memperingati hari jadi Tulungagung pada tanggal 1 April.

Berdasarkan penafsiran dan keyakinan bahwa tanggal 1 April 1824 sebagai tonggak hari jadi Tulungagung, banyak pihak yang merasa ragu dan keberatan. Tidak terkecuali Panitia Peringatan Hari Jadi Tulungagung yang Ke-176 pada tahun 2000. Pada waktu itu Panitia Peringatan Hari Jadi Tulungagung merekomendasikan tentang perlunya peninjauan ulang terhadap penanggalan Hari jadi Tulungagung.

Selanjutnya pada tanggal 24 Juli 2000 diselenggarakan seminar sehari ¡° Kaji Ulang Hari Jadi Kabupaten Tulungagung ¡± yang dihadiri oleh unsur Eksekutif, Legislatif, Pemerhati Sejarah, Budayawan, Pemuka Masyarakat, dan LSM di Tulungagung. Intinya adalah tercapainya kesepakatan tentang penelusuran hari jadi dan penulisan ulang sejarah Daerah Tulungagung. Namun sayang sekali pada tahun itu penulisan ¡° Sejarah Daerah Tulungagung ¡° belum bisa diwujudkan.

Babak selanjutnya, pada tanggal 9 Oktober 2002 ditetapkan peraturan daerah Kabupaten Tulungagung No : 27Tahun 2002 tentang hari jadi Tulungagung.

Pada Bab II pasal 2 ayat (1) disebutkan bahwa tanggal 18 Nopember 1205 ditetapkan sebagai hari jadi Tulungagung.

Dengan demikian, sejak tahun 2003 ini hari jadi Tulungagung tidak lagi diperingati setiap tanggal 1 April, melainkan setiap tanggal 18 Nopember sepaerti saat skarang ini. Penetapan tanggal 18 Nopember 1205 sebagai hari jadi Tulungagung merupakan hasil penelitian seksama terhadap peninggalan sejarah berupa prasasti yang banyak bertebaran di kawasan Tulungagung. Sedangkan prasasti yang memuat tanggal 18 Nopember 1205 adalah prasasti Lawadan yang terletak di sekitar Desa Wates Kecamatam Campurdarat, yang menyatakan ¡°Sukra Suklapaksa Mangga Siramasa¡±, artinya Jum¡¯at Pahing 18 Nopember 1205. Prasasti Lawadan dikeluarkan atas perintah Raja Daha terakhir, yaitu Paduka Sri Maharaja Sri Sarwweswara Triwikrama Watara Nindita Srengga Lancana Digjaya Tungga Dewanama atau lebih dikenal dengan sebutan Sri Kretajaya atu Raja Kertajaya yang pada waktu itu merasa berkenan atas kesetiaan warga Thani Lawadan terhadap raja ketika terjadi serangan musuh dari sebelah timur Daha.

Pada Prasasti Lawadan dijelaskan juga tentang anugrah Raja Kertajaya berupa pembebasan dari berbagai pungutan pajak dan penerimaan berbagai hak istimewa kepada DWAN RI LAWADAN TKEN WISAYA, atau dikenal dalam cerita sebagai DANDANG GENDHIS. Alasan mendasar dipilihnya prasasti Lawadan sebagai tonggak sejarah berdirinya Kabupaten Yulungagung dan menggantikan Besluit Gubernur Jendral Hindia-Belanda Nomor : 8 Tahun 1901 adalah karena prasasti Lawadan memenuhi 9 kriteria dari 13 kriteria yang di gunakan untuk menetapkan hari jadi suatu daerah.

Kriteria itu antara lain : komonitas warga Lawadan waktu itu telah memiliki sistem pemerintahan dan sosial budaya yang teratur, mandiri, mengandung nilai-nilai yang bersifat kepahlawanan dan menimbulkan rasa cinta tanah air, dan lain-lain.

Dengan demikian, sejak tahun 2003 ini kita memperingati hari jadi Kabupaten Tulungagung setiap tanggal 18 Nopember.

Dalam Bahasa Kawi, Tulungagung berarti ‘sumber air besar’. Tulung berarti sumber, dan agung berarti besar. Dulunya merupakan daerah kecil yang terletak di sekitar tempat yang saat ini merupakan pusat kota (alun-alun).

Tulungagung adalah sebuah kabupaten di Jawa Timur, Indonesia. Kabupaten Tulungagung dibatasi oleh Kabupaten Blitar di sebelah timur, Kabupaten Trenggalek disebelah barat, Kabupaten Kediri di sebelah utara dan Samudra Hindia di sebelah selatan. Secara administratif, Kabupaten Tulungagung terbagi dalam 19 kecamatan, 257 desa, dan 14 kelurahan. Kecamatan tersebut adalah Bandung, Besuki, Boyolangu, Campurdarat, Gondang, Kalidawir, Karangrejo, Kauman, Kedungwaru, Ngantru, Ngunut, Pagerwojo, Pakel, Pucanglaban, Rejotangan, Sendang, Sumbergempol, Tanggung Gunung, Tulungagung.

Secara topografik, Tulungagung terletak pada ketinggian 85 m di atas permukaan laut (dpl). Bagian barat laut Kabupaten Tulungagung merupakan daerah pegunungan yang merupakan bagian dari pegunungan Wilis-Liman. Bagian tengah adalah dataran rendah, sedangkan bagian selatan adalah pegunungan yang merupakan rangkaian dari Pegunungan Kidul. Di sebelah barat laut Tulungagung, tepatnya di Kecamatan Sendang, terdapat Gunung Wilis sebagai titik tertinggi di Kabupaten Tulungagung yang memiliki ketinggian 2552 m. Di tengah Kota Tulungagung, terdapat Kali Ngrowo yang merupakan anak Kali Brantas dan seolah membagi Kota Tulungagung menjadi dua bagian: utara dan selatan.

Dulunya, Tulungagung merupakan daerah yang berawa-rawa, yang terkenal dengan nama Bonorowo/ngrowo (rowo=rawa). Bekas rawa-rawa tersebut kini menjadi wilayah kecamatan Campurdarat, Boyolangu, Pakel, Besuki, Bandung, Gondang. Dalam prasasti Lawadan, terletak di sekitar Desa Wates Kecamatan Campurdarat, dengan candra sengkala “Sukra Suklapaksa Mangga Siramasa” yang menunjuk tanggal 18 November 1205 M disebutkan bahwa Raja Daha yang terakhir yaitu Sri Kretajaya merasa berkenan atas kesetiaan warga Thani Lawadan terhadap raja ketika terjadi serangan musuh dari sebelah timur Daha. Tanggal tersebut kemudian digunakan sebagai hari jadi Tulungagung. Pada Prasasti Lawadan dijelaskan juga tentang anugrah Raja Kertajaya berupa pembebasan dari berbagai pungutan pajak dan penerimaan berbagai hak istimewa kepada Dwan Ri Lawadan Tken Wisaya, atau dikenal dalam cerita sebagai Dandang Gendhis. Di jaman majapahit, Bonorowo dipimpin oleh seorang Adipati yang bernama adipati kalang. Adipati kalang tidak mau tunduk pada kekuasaan Majapahit, yang berujung pada invasi Mojopahit ke Bonorowo. Adipati kalang dan pengikutnya yang berjuang dengan gagah berani akhirnya tewas dalam pertempuran didaerah yang sekarang disebut Kalangbret dikecamatan Kauman.

Di Jaman penjajahan jepang, Tulungagung dijadikan base pertahanan jepang untuk menangkal serangan sekutu dari australia serta sebagai benteng pertahanan terakhir untuk menghadapi serangan dari arah utara. Pada masa itu ratusan ribu romusa dikerahkan untuk mengeringkan rawa-rawa Tulungagung membuangnya ke pantai selatan dengan membuat terowongan air menembus dasar gunung Tanggul, salah satu gunung dari rangkaian pegunungan yang melindungi Tulungagung dari dasyatnya ombak pantai selatan, yang terkenal dengan sebutan terowongan ni yama. Terowongan tersebut sekarang dijadikan PLTA Tulungagung.

Sentra industri dan makanan

Tulungagung sekarang terkenal sebagai sentra industri kerajinan marmer dan batu onyx. Sentra industri ini terdapat di selatan Tulungagung, terutama di Kecamatan Campurdarat, yang di dalamnya banyak terdapat perajin marmer. Batu-batuan marmer dan onyx tersebut selain bersumber dari Tulungagung sendiri, juga di datangkan dari daerah lain, seperti Bawean, sebuah pulau yang masuk wilayah kabupaten Gresik. Bawean dikenal sebagai pemasok batu onyx yang memiliki kualitas baik dan relatif lebih tua dari segi usia.

Selain industri marmer, di Tulungagung juga tumbuh dan berkembang berbagai industri kecil dan menengah yang kebanyakan memproduksi alat-alat/perkakas rumah tangga. Seperti batik dan konveksinya, bordir Garmen, busana muslim, sprei, sarung bantal, rukuh dan sebagainya. Di Kecamatan Ngunut terdapat industri peralatan TNI dengan standart NATO seperti tas ransel, sabuk, dan lainnya. Begitu juga makanan ringan seperti kacang atom dan lain-lain.

Selain itu, juga terdapat banyak makanan khas Tulungagung. Makanan tersebut barangkali tak akan mudah di temukan di daerah lain, seperti: lodho ayam, nasi pecel, sompil, dan jajanan semisal kacang Shanghai, geti, jongkong, ireng-ireng, sredeg, cenil, plenggong. Ada juga minuman khasnya, seperti: kopi cethe, wedang jahe sere, dawet camcao, rujak uyub, dan beras kencur

home

Oleh: Drs Suprayitno | September 28, 2009

Artikel PERKEMBANGAN SENI DAN BUDAYA SERTA PELESTARIANNYA

PERKEMBANGAN SENI DAN BUDAYA SERTA PELESTARIANNYA
Oleh : SOEHARTO, BA

Indonesia merupakan negara yang sedang berkembang dan merupakan pula negara agraris yang kaya dengan khasanah budaya, sehingga negara ini di tuntut perkembangan pembangunan yang pesat dan pelestarian adat yang kuat .

Pembangunan di negara kita adalah Pembangunan manusia seutuhnya menunju masyarakat yang adil dan makmur. Berbicara pembangunan adalah kegiatan perubahan yang direncanakan guna mencapai kebaikan yang sempurna, untuk itu pembangunan yang pesat pasti akan timbul perubahan dalam segala bidang.

Pembangunan fisik Tulungagung nampak jelas perubahan-perubahan gedungnya, bahkan menghilangkan kesan-kesan bangunan lama, nampak jelas di Tulungagung sekarang bahwa bangunan yang lama dan bersejarah tinggal Pendapa Kongas Arum Kusumaning Bangsa dan Masjid Al-Munawar yang tinggal fungsinya saja ,sedangkan yang hilang fungsi dan bangunannya , misalnya:

1. Rumah Bupati Pringgokoesoema, yang dulu berfungsi sebagai tempat Pusaka Kanjeng Kyai Upas dan Dalem Pringgokoesoeman yang terletak di Jl. Panglima Jendral Sudirman.

2. Gedung Kontroliran, sekarang menjadi Kantor Pengawasan Kabupaten Tulungagung.

3. Gedung AR ( Asisten Residen ) menjadi Gedung DPRD.

4. Taman Makam Bahagia menjadi TK Dharma Wanita.

5. Gedung Penjara menjadi Kantor Bea Cukai dan SMPN I Tulungagung .

6. Tugu Wilhelmina, yang letaknya dulu di Tugu Kartini yang sekarang, dan bangunan lainnya .

Perubahan ini tidak hanya bangunan fisik saja tetapi juga termasuk Seni dan Budayanya, karena Tulungagung memiliki Motto “ PEMBANGUNAN INGANDAYA MENUJU TULUNGAGUNG BERSINAR “, oleh karena itu maka banyak seni dan budaya yang mengalami perubahan, misalnya Seni Jaranan, yang dulu terkenal dengan Jaranan Pegon/Jawa, sekarang mengalami perubahan

yang sangat menonjol menjadi Seni Jaranan Campursari dengan nuansa penuh dangdut.

Adapun perubahan budaya, budaya adat banyak yang dikurangi bahkan kadang- kadang dihapuskan, misalnya :upacara adat siraman mantu, upacara adat tingkepan, bahkan pakaian adatpun diubah yang pada akhirnya mengurangi khas adat yang bersangkutan.

Kalau kita amati, kurangnya pelestarian seni dan budaya dikarenakan hal-hal sebagaibeikut :

1. Diambil praktisnya, seperti misalnya ; karena resepsi manten memakan waktu yang lama maka resepsi diganti dengan cara Standing Party

2. Dikarenakan sukaranya untuk mempelajari seni dan budaya, maka pada umumnya kesenian sukar dilaksanakan dan dipelajari, sehingga perkembangannya lambat dan bisa hilang, contohnya : wayang orang, karena pemain wayang orang dituntut bisa wirogo, wicora, langen suara dan busana yang telah ditentukan.

3. Karena pengaruh seni budaya dari luar dan perkembangan mode pada dewasa ini, maka Pakaian Adat ditinggalkan, padahal mode dewasa ini banyak yang bertentangan dengan norma tata krama, misalnya : para remaja yang berpakaian ketat bahkan menampakkan pusar dan pinggang bagian belakang.

4. Faktor ekonomi, karena upacara adat memerlukan biaya yang tidak sedikit.

5. Terbatasnya sarana dan sukarnya pengadaan sarana dikarenakan ahlinya sudah tidak ada di Tulungagung , misal mencari pembuat blankon saja sudah tidak ada .

Pada akhirnya kita masih perlu melestarikan seni dan budaya yang dapat berjalan dengan situasi dan kondisi pada dewasa ini untuk mempertahankan ciri khas masing-masing, misalnya Pakaian Adat Daerah Tulungagung sebagai Jatidiri warga Tulungagung . Apabila seni dan budaya ini tidak dilestaraikan , maka akan ada kemungkinan diambil alih oleh daerah lain, misalnya Jaranan Turonggo Yaksa asli dari Kedungcangkring Kecamatan Pagerwojo sekarang Hak Patennya sudah menjadi milik Kabupaten Trenggalek, bahkan Reog Kendang Tulungagung akan diminta oleh Kabupaten Kediri.

Untuk itu mari kita bersama-sama menggali bagaimana Pakaian Adat Tulungagung .

home

Oleh: Drs Suprayitno | September 28, 2009

Artikel PERKEMBANGAN BATIK DI TULUNGAGUNG

PERKEMBANGAN BATIK DI TULUNGAGUNG

Oleh M. ANIES MUCHSAN

Pengertian

Batik suatu kata yang kedengarannya sangat sederhana tetapi kalau kita hayati patut berbangga, karena Batik sudah menjadi kata baku Internasional yang merupakan pengakuan dunia pada hasil karya seni diatas merupakan karya ciptaan asli nenek moyang leluhur kita yang bernilai tinggi.

Batik merupakan seni dan keahlian yang turun temurun yang menjadikan salah satu sumber penghidupan yang memberikan lapangan kerja bagi warga masyarakat juga sebagai penyaluran kreasi yang mempunyai arti tersendiri dan kadang dihubungkan dengan tradisi, kepercayaan dan sumber kehidupan yang berkembang dalam masyarakat.

Batik semula hanya diperuntukkan bagi Kerabat Keraton, namun sesuai perkembangan zaman akhirnya masyarakat luas bisa memakai dan membuat batik. Batik hanya bisa dipakai sebagai piranti pada segi Magis Religius yang sampai sekarang masih digunakan pada upacara seperti :

® Upacara Pinangan memakai batik motif PAMILUTO

® Upacara Pernikahan , sepasang pengantin memakai kain batik motif

SIDOMUKTI, sedang orang tua memakai batik motif TRUNTUM .

® Upacara Boyongan, pemilik rumah yang akan menempati rumah baru biasanya

memakai batik motif TAMBAL .

Perkembangan selanjutnya batik dapat menyesuaiakan diri dengan kenyataan-kenyataan yang tumbuh dimasyarakat. Batik yang semula hanya untuk dipakai dalam upacara Magis Religius ternyata sekarang Batik tidak hanya dipakai sebagai Nyamping dan Dodot oleh Kerabat Keraton. Dengan mengikuti aras zaman, Batik dapat dipakai oleh masyarakat umum sebagai kebutuhan sandang/busana maupun untuk keperluan rumah tangga dan lain sebagainya, misal untuk taplak meja, sprei, sarung-bantal kursi, korden dan bahkan sekarang sebagai tutup lemari es, galon Aqua dll .

Batik Tulungagung

Pada saat ini di tulungagung ada 3 type menurut daerah pusat pembatikan, yaitu : Bangoan dan sekitarnya, Majan dan sekitarnya, Kalangbret dan sekitarnya.

1. Batik Bagoan.

Dibuat di daerah Bangoan dan sekitarnya . Batik Bangoan dibuat secara tulis kasar. Motif Batik Bangoan umumnya bermotif semen, sekar jagad, sidomukti, dan lereng. Warna Batik biru tua (wedelan) dan coklat tua ( soga ). Proses dikerjakan secara kerokan (susukan) .

2. Batik Majanan.

Dibuat di daerah Majan dan sekitarnya. Batik Majanan dibuat secara tulis, sedang sampai halus. Motif batik Majan ini bermotif gringsing sebagai motif dasar dan bentuk buketan (bunga) ditengah-tengahnya.

Warna batik Majanan ini berwarna coklat (soga) warna dasar pada gringsing. Sedang pada buketan berwarna biru muda, biru tua, kuning, dan kadang-kadang warna violet dan merah yang dikerjakan secara toletan. Sedang proses pengerjaannya secara lorodan (kebyok).

3. Batik Kalangbret dan sekitaranya (Kambretan).

Dibuat di daerah Kalangbret dan sekitarnya secara tulis maupun cap-capan.Tipe batik Kambretan yaitu tulisnya dibuat secara sedang sampai halus dan pada buketannya tidak diberi warna warni hanya warna coklat (soga) dan warna biru tua ( wedelan). Sedangkan batik cap-capan di daerah ini sangat banyak motifnya. Motif-motif itu hasil penggabungan dari motif-motif dari daerah lain, misalnya : Solo, Yogyakarta, Banyumas dan lain-lainnya, yang akhirnya menjadi motif khas Tulungagung. Proses pengerjaan batik Kalangbret secara lorodan ( kebyok ) dan disamping itu khusus batik cap dapat dikerjakan secara pres.

Sesuai dengan kemajuan jaman dan tekhnologi, dalam dunia batikpun mengalami hal yang serupa yaitu dibidang desain, bahan dasar, maupun prosesnya. Perkembangan tersebut sesuai dengan permintaan konsumen.

Pada awalnya batik hanya dikerjakan secara tulis, selanjutan mengalami perkembangan yaitu secara cap-capan, kemudian secara printing (sablon). Kemungkinan dikemudian hari batikpun bisa mengalami kemajuan sesuai dengan perkembangan tekhnologi, mungkin juga bisa diproses secara foto copy .

Tekhnik Membuat Batik

Yang dimaksud dengan teknik membuat batik adalah proses-proses pekerjaan dari permulaan yaitu dari mori batik sampai menjadi kain batik . Pekerjaan dari mori batik menjadi kain batik dapat dibagi menjadi 2 bagian, yaitu

1. Persiapan .

Yaitu berbagai macam pekerjaan pada mori hingga menjadi kain yang siap untuk dibatik. Pekerjaan persiapan itu antara lain ;

1.1 memotong mori sesuai ukuran yang diinginkan

1.2 mencuci ( dikanji jika perlu )

1.3 mengeringkan

2. Membuat Batik .

Yaitu berbagai macam pekerjaan dalam membuat batik yang sebenarnya, dan pekerjaan itu meliputi 3 macam pekerjaan utama , diantaranya

2.1 pelekatan lilin batik pada kain untuk membuat motif batik yang dikehendaki

2.2 pewarnaan batik

2.3 menghilangkan lilin yang telah melekat pad permukaan kain yang disebut nglorod/ngebyak/mbabar.

Macam-macam Tekhnik Pembuatan Batik

Ada 3 macam tekhnik dalam pembuatan Batik yaitu :

1. Batik Kerokan, urutan kerjanya :
mori dipotong
dibatik klowong
di batiktembokan
diwedel (warna biru dongker )
dikerok ( menghilangkan sebagian tertentu lilin )
dibironi ( ditutup lilin bagian biru dan putih )
disoga ( diwarna coklat )
dilorod ( menghilangkan lilin )

2. Batik Lorotan, urutan kerjanya :
mori dipotong

b. dibatik klowong dan tembokan
diwedel ( warna biru dongker )
dilorod / dikebyok
dibironi ( ditutup lilin bagian biru danputih )
disoga ( diwarna coklat )
dilorod ( menghilangkan lilin )

3. Batik Bedesan, urutan kerjaannya :
mori dipotong
dibatik tembokan
disoga
dibatik klowong
diwedel
dilorod.

Bahan – bahan Batik

Ada beberapa bahan yang dibutuhkan dalam memproses batik, diantaranya Mori/kain batik, lilin batik, zat warna batik, dan obat-obat pembantu .

1. Mori adalah kain yang terbuat dari katun. Ada bebarapa jenis kain mori yaitu :
Mori Primissima, yaitu jenis kain mori yang paling halus
Mori Prima, yaitu mori halus
Mori Biru, yaitu mori sedang

2. Lilin Batik

Lilin batik adalah bahan yang dipakai untuk menutup permukaan kain menurut motif yang dikehendaki.

Lilin batik terdiri dari campuran beberapa bahan pokok lilin yaitu gondorukem,damar, parafin, gajoh, lilin tawon/lilin lanceng.

3. Zat warna, terdiri dari:
Napthol
Indigosol
Remasol
Indantren
Rapid
4. Obat peramu
Soda kustik
Soda abu
HCL
Water glass
Jenis – jenis Batik

1. Baatik Tulis

Batik yang prosesnya ditulis dengan canting

2. Batik Cap

Batik yang prosesnya dicap memakai cap yang terbuat dari tembaga dengan motif tertentu

3. Batik Lukis

Batik yang prosesnya dilukis dengan kwas maupun canting yang biasanya sebagai kuasan dinding

4. Batik Printing

Batik yang prosesnya disablon dengan scren motif batik tertentu

Batik Gajah Mada Khas Tulungagung

Batik Gajah Mada khas Tulungagung merupakan aset daerah yang tidak boleh kita acuhkan begitu saja. Sebab timbulnya sebutan suatu produk tertentu yang dimiliki oleh suatu daerah tidaklah secepat yang kita bayangkan, melainkan melalui proses yang panjang .Baik itu dilihat dari latar belakang sejarahnya , pasang surutnya pasar, sampai pada persaingan perdagangan batik itu sendiri .

Jika mencoba melihat dari sejarah nama “ Gajah Mada “ itu sendiri, ada beberapa pendapat yang menerangkan arti nama tersebut .

1. Dalam perjalanannya, Patih Gajah Mada dalam menyatukan wilayah nusantara, pernah singgah di Tulungagung kala itu, memberikan kisah-kisahnya pada pembesar katumenggungan pada dan dituangkan pada aneka warna dalam batik.

2. Gajah Mada dalam menyatukan aneka daerah di nusantara, disinonimkan pula dalam aneka corak /gambar dalam batik. Beberapa gambar seperti ikan, ayam, aneka buah-buahan, tanaman dll, disatukan dalam satu karya batik

3. Banyak masyarakat disekitar daerah Kalangbret, mendengarkan cerita-cerita dari leluhurnya, bahwa pada saat Nyi Roro Kembang Sore masih hidup

hampir setiap malam hari biasanya di Gunung Bolorejo terdengar suara semruitnya canting batik milik Nyi Roro Kembang Sore ditiup,walau dalam radius 2 kilometer lebih suara itu bisa didengar. Dijelaskan bahwa Nyi Roro Kembang Sore sedang membatik, dan batiknya adalah batik Gajah Mada.

4. Ada juga beberapa pendapat yang mengatakan bahwa pengambilan nama Gajah Mada pada Batik khas Tulungagung diambil oleh karena keheroikan atau popularitas nama Gajah Mada yang ngentren pada waktu itu sebagai nama yang mengakar di hati masyarakat Tulungagung. Jadi pengambilan nama itu semata-mata hanya untuk menandai pasaran Batik Tulungagung yang pada waktu itu amat laku .Dan seterusnya pemakaian nama itu bertahan hingga sekarang .

Demikian sekilas tentang apa itu batik dan sekilas sejarah tentang nama Batik Gajah Mada itu sendiri . .

Tulungagung, Desember 2003

home

BUSANA DAERAH PERWUJUDAN KEANEKA RAGAMAN LINGKUNGAN BUDAYA DALAM UPAYA PENCIPTAAN JATIDIRI  ( oleh : Drs. SUPRAYITNO )

1. PENDAHULUAN

Pengembangan Kebudayaan Daerah setempat perlu senantiasa mendapatkan prioritas untuk dibina. Hal ini tidak lain karena komulasi dari berbagai pranata ada dalam masyarakat di daerah. Hal ini juga diperjelas dengan Pasal 32 Undang-undang Dasar 1945 dan dalam TAP MPR di setiap Pelita.

Definisi ‘ Kebudayaan ‘ yang dikemukakan oleh Prof. DR Koentjoroningrat adalah Keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia, dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Ini berarti bahwa hampir semua tindakan manusia adalah Kebudayaan. Karena amat sedikit tindakan manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang tak perlu dibiasakan dengan belajar.

Masing-masing Individu mempunyai gagasan sendiri-sendiri, pada saat mereka bertemu satu dengan yang lain terjadi interaksi dalam gagasan atau pemikiran yang akhirnya dapat membuahkan gagasan kolektif biasanya terumuskan dan tersimpan dalam bahasa dari masyarakat yang bersangkutan, dan demikian dapat dilanjutkan kepada generasi berikutnya.

Dengan demikian bila generasi warga masyarakat yang bersangkutan telah meninggal dapat dilanjutkan kepada generasi berikutnya ( Definisi Kebudayaan menurut Durkheim).

Masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain juga berbeda dalam kebudayaannya, misalnya kebudayaan suku Jawa akan berbeda dengan suku Bali, Batak Banjar, mentawaian, maupun suku-suku yang lain. Namun kebaikan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia bahwa dengan perbedaan yang mereka miliki malah saling mengisi, melengkapi dan dapat bekerja sama .

Disisi lain karena mengetahui keaneka ragaman karakteristik/ kebudayaan maka akan semakin tahu apa yang dimaksud keindahan bangsa Indonesia, dengan demikian akan mendorong timbulnya rasa kebangsaan, nasionalisme, patriotisme hingga dapat memperkokoh jati diri bangsa .

Jatidiri bangsa diperoleh dari jati diri masyarakat akan rasa cintanya terhadap daerahnya, rasa bangga terhadap daerahnya, yang akhirnya dengan segala potensi yang dimiliki disumbangkan untuk mengisi program-program pembangunan yang telah direncanakan .

2. KEANEKA RAGAMAN LINGKUNGA BUDAYA

Berbicara masalah Lingkungan budaya di suatu daerah, tidak bisa terlepas dari keaneka ragaman suku-suku bangsa dan bahasa daerah di Indonesia .

Menurut Prof.DR. Koentjaraningrrat suku bangsa adalah satuan –satuan manusia atau kolektif yang terikat oleh kesadaran dan kekuatan atau kesatuan kebudayaan. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk, kepulauan Indonesia terdiridari 13.000 pulau besar maupun kecil oleh 316 suku bangsa yang menggunakan ± 250 bahasa daerah.

Keanekaragaman kehidupan masyarakat Indonesia selain menyebabkan perbedaan-perbedaan budaya juga memperlihatkan kesamaan-kesamaan.

Perbedaan budaya yang ada terjadi karena beberapa hal :

1. Keadaan dan letak geografis

Keadaan geografis ini menyebabkan terbentuknya masyarakat pedesaan, pegunungan, pesisir, perkotaan dan masyarakat terpencil.

2. Latar belakang sejarah.

Masing-msing wilayah mempunyai sejarah yang berbeda, karena pengaruh budaya luar yang masuk juga berbeda-beda.

3. Masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Meraoke terdiri dari berbagai macam ras .

Faktor-faktor di atas menimbulkan perbedaan dalam bahsa, sistem mata pencaharian, adat istiadat, bentuk rumah,dan kesenian, yang tiap-tiap daerah memiliki ciri khas yang berbeda dengan daerah yang lain .

Penggambaran di atas juga terjadi di tiap-tiap daerah, baik itu dalam lingkup Suku bangsa, maupun dalam lingkup Propinsi, walaupun ada beberapa kesamaan.

Di lingkup Propinsi Jawa Timur misalnya, Kabupaten Ponorogo sudah berbeda dengan masyarakat Madura, atau Madura dengan Surabaya, Malang dengan Tulungagung, dan seterusnya.

3. PENGERTIAN LINGKUNGAN BUDAYA

Dari urain di atas juga sebenarnya sudah tergambarkan, apa itu Lingkungan Budaya.

Menurut SK Mendikbud RI No. 0222.c/0/1980, tanggal 11 September 1980, Lingkungan Budaya adalah Lingkungan yang berisikan berbagai paham/keyakinan serta komponen karya manusia sebagai hasil aktivitas dan interaksi yang terjadi selama kurun waktu tertentu membentuk tatanan masyarakat .

Apabila diperjelas pengertiannya, Lingkungan Budaya meliputi :

- Pahan/keyakinan yang meliputi adat istiadat, norma,nilai-nilai , agama, dan bahasa yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari

- Komponen karya manusia yang dipergunakan untuk keperluan hidup sehari-hari, meliputi peralatan yang dipergunakan, mata pencahariannya, bentuk dan jenis makanan dan minumannya, busananya, serta pemukimannya .

- Bentuk interaksi antar manusia, dan budaya sekitarnya.

Adapun Ruang Lingkup Lingkungan Budaya menurut SK Mendikbud RI No. 0222.c/0/1980, tanggal 11 September 1980 adalah :
Pola Lingkungan Budaya
Hubungan antar budaya
Pengamatan Perubahan Lingkungan Budaya.

Dari ketiga bidang ini apabila dijelaskan satu persatu sangatlah panjang, namun terbentuknya suatu budaya baik itu berupa adat istiadat, norma, komponen karya manusia sampai interaksi seperti tersebut di atas terjadi dan dipelajari pada bidang

Pengamatan Perubahan Lingkungan Budaya . Contoh dalam hal ini Pakaian Adat suatu daerah terbentuk dari proses Asimilasi budaya yang panjang.

4. PENCIPTAAN JATI DIRI

Berdasarkan semboyan ‘ Bhinneka Tunggal Ika ‘ , maka bangsa Indonesia yang beraneka ragam budaya menyadari pentingnya persatuan bangsa, dengan arti bersatu tidak harus sama.

Yang menjadi cita-cita bangsa Indonesia, hidup rukun tentram dan damai dalam suatu wilayah kesatuan Republik Indonesia . Bahasa Indonesia merupakan tali pengikat persatuan bangsa Indonesia dengan tetap menjunjung bahasa-bahasa Daerah dari berbagai suku bangsa .

Bangsa Indonesia tidak ingin dan tidak akan menghilangkan perbedaan-perbedaan dikalangan bangsa Indonesia sendiri, tindakan menghilangkan perbedaan itu bertentangan dengan kodrat bangsa Indonesia, berusaha terus agar perbedaan tersebut mempersatukan bangsa kita dalam persamaan penuh, keserasian dan keselarasan.

Berangkat dari keaneka ragaman kita ciptakan persatuan dan kesatuan bangsa, keaneka ragaman budaya kita jadikan landasan pembinaan persatuan dan kesatuan bangsa, keaneka ragaman budaya kita kembangkan agar tumbuh subur dan dapat memperkaya maupun memberi warna warni indahnya budaya bangsa.

Dalam setiap PELITA menghendaki agar budaya bangsa sebagai perwujudan cipta, rasa, karsa dan karya bangsa Indonesia yang telah dilandasi nilai luhur bangsa berdasarkan Pancasila bercermin pada Bhinneka Tunggal Ika dan berwawasan Nusantara harus diupayakan agar senantiasa menjiwai perilaku masyarakat dalam pelaksanaan pembangunan serta dapat memperkokoh Jatidiri bangsa.

4. PENUTUP

Suatu hal yang sangat menarik sebab dalam setiap PELITA menghendaki budaya bangsa sebagai perwujudan cipta, rasa, karsa dan karya bangsa Indonesia yang dilandasi nilai luhur bangsa.

Dewasa ini di negara kita sedang terjadi proses modernisasi yang membawa perubahan sosial budaya akibatnya akan membawa dampak positif dan negatif.

Masalahnya sekarang bagaimana faktor-faktor negatif dapat ditempuh atau pengaruhnya dibuat seminimal mungkin .

Dalam menghadapi permasalahan ini bantuan dan dukungan faktor-faktor intern yang kuat yang dimiliki bangsa ini untuk bertindak dan memilih mana yang sebaiknya dilakukan.

Pemakaian dan kebanggaan memakai Busana Daerah merupakan wujud jatidiri yang harus senantiasa dipertahankan.

Tulungagung, Desember 2003

home

Oleh: Drs Suprayitno | September 28, 2009

Artikel PAKAIAN ADAT DAN NILAI SEJARAH

PAKAIAN ADAT DAN NILAI SEJARAH
H. NURCHOLIS, M.Pd I

Kabupaten Tulungagung, tanggal 18 Nopember 2003, memperingati Hari Jadinya yang ke-798 ( 1205 – 2003 ) . Dari sekian kegiatan yang direncanakan Panitia diantaranya adalah Sarasehan Pakaian Adat Kabupaten Tulungagung Tahun 2003 . Dari Sarasehan ini diharapkan dapat ditemukan dan disepakati bentuk dan corak Kabupaten Tulungagung yang tidak bertentangan dengan norma ketimuran, adat istiadat, maupun agama yang dianut oleh masyarakat Tulungagung. Sehingga apa yang dihasilkan dalam Sarasehan ini layak diwariskan kepada generasi penerus bangsa.

Banyak aspek yang dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dalam memilih atau menentukan Pakaian adat suatu daerah. Ada kalanya aspek normatif, seperti agama dan adat istiadat yang berlaku dan berkembang di masyarakat. Ada kalanya aspek geografis seperti cuaca, lingkungan pemukiman, dan kondisi alam. Ada kalanya aspek ekonomis, seperti kondisi perekonomian masyarakat dan jenis pencaharian masyarakat. Semua aspek-aspek tersebut antara satu dan lainnya saling berkaitan. Artinya, dalam menentukan atau memilih Pakaian adat suatu daerah tidak dapat menekankan pada satu aspek saja, tapi harus mempertimbangkan aspek-aspek lainnya.

Dalam tulisan ini penulis ingin menyinggung masalah Pakaian adat dengan nilai-nilai sejarah yang ada di masyarakat Kabupaten Tulungagung. Dengan harapan bentuk atau model Pakaian adat Kabupaten Tulungagung tidak meninggalkan nilai sejarah yang ada di Kabupaten Tulungagung. Kalaupun nilai sejarah tidak dapat mewarnai Pakaian adat Kabupaten Tulungagung, minimal ada nilai sejarah yang terbaca atau dapat dirasakan ketika melihat Pakaian Adat Kabupaten Tulungagung.

Secara geografis, Tulungagung dahulu adalah rawa-rawa, mulai dari daerah pegunungan selatan, Campur darat, hingga kampung dalem yang sekarang alun-alun dan Pendapa Kabupaten .

Rawa yang paling dalam dan tidak pernah surut airnya adalah tepat pada alun-alun sekarang ini.Oleh karena daerah rawa-rawa, maka Tulungagung dahulunya disebut Kabupaten Ngrowo. Sejak 1 April 1901, atas dasar Besluit Gubernur Genderal Pemerintah Belanda , Kabupaten Ngrowo diganti menjadi Kabupaten Tulungagung.

Sebenarya Ngrowo dan Tulungagung merupakan sinonim. Ngrowo berasal dari kata rawa yang mendapat sengau .Rawa berarti daerah rendah yang penuh dengan genangan air. Sedang kata Tulung dalam bahasa sansekerta adalah sumber air, dalam bahasa Jawa berarti umbul dan Agung berarti besar. Tulungagung berarti sumber air yang besar.

Kalau kita mau menoleh ke masa lalu, mendengar kata rowo atau ngrowo, terkesan dalam ingatan dan bayangan kita adalah sebuah wilayah terhampar luas dengan genangan air yang tak pernah habis.

Di sana tumbuh berbagai macam tumbuhan rawa-rawa, seperti kangkung, kayu apung, enceng gondok, ganggang, genjer, lumut dan sebagainya. Di waktu sore hari banyak burung jenis bangau, blekok, kuntul, mriwis dan sebagainya berjejer hinggap di atas tumbuhan rawa-rawa tersebut. Didalamnya rawa hidup berbagai jenis ikan yang berkembang biak siap menjadi konsumsi warga sekitanya. Masyarakatnya bekerja sebagai petani, pencari ikan dan buruh. Pola hidupnya sederhana, dalam situasi damai, aman dan tentram.

Inilah sekilas gambaran Kabupaten Ngrowo / Tulungagung tempo dulu yang seyogyanya dapat kita gunakan sebagai bahan pertimbangan dalam memilih atau menentukan jenis model pakaian adat Kabupaten Tulungagung.

Mendengar kalimat “ Pakaian Adat “ terkesan dalam benak kita suatu pakaian yang memiliki model tersendiri, digunakan dalam acara-acara khusus, memiliki nuansa kedaerahan, warna dan corak spesifik pula. Namun sebenarnya pakaian adat itu memiliki 2 pengertian.

1. Pakaian adat dalam pengertian tradisional sebagaimana tergambar di atas.

2. Pakaian adat dalam pengertian yang dinamis yaitu Pakaian
sebagaimana layaknya pakaian pada umumnya, tapi memiliki identitas-identitas tertentu yang diakui sebagai ciri khas suatu daerah tertentu.

Ciri-ciri khas yang dimiliki dan diakui sebagai milik daerah itu bisa berupa motif, gambar, bahan, warna atau model tertentu . Seperti Kabupaten Tulungagung memiliki batik yang bermotif “ Gajah Mada “. Jawa Barat memiliki sarung batik yang sering digunakan oleh wanita. Nusa Tengara Barat memiliki sarung tenun yang berwarna-warni, dan sebagainya.Ini biasa disebut pakaian daerah.

Bagaimana dengan pakaian adat Kabupaten Tulungagung dalam pengertian tradisional ?.

Kabupaten Tulungagung sudah memiliki pakaian adat tersendiri .Untuk pria, baju model jas warna putih, krah shanghai, bawah jarit batik motif Gajah mada atau kawung dan bertutup kepala blangkon.. Untuk wanita, baju kebayak model Kartini warna putih, bawah jarit batik motip Gajah mada atau kawung.

Bagaimana pakaian adat atau pakaian daerah Kabupaten Tulungagung dalam pengertian yang dinamis ?, inilah yang perlu didiskusikan dan dikembangkan. Karena pakaian khas daerah Tulungagung ini kalau dapat diterima oleh masyarakat, tidak hanya dapat membawa nama baik Kabupaten Tulungagung, tapi dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat Tulungagung.

Sejalan dengan dikembangkannya batik Tulungagung, maka dalam memilih atau menentukan motif, gambar dan warna hendaknya tidak meninggalkan nilai-nilai kesejarahan Kabupaten Tulungagung itu sendiri. Seumpama memilih gambar burung, hendaknya dipilih burung yang biasa hidup di rawa-rawa, seperti burung blekok, kuntul, mriwis, dan sebagainya. Asal bukan burung cucak rowo .Seumpama memilih gambar tumbuhan hendaknya dipilih tumbuhan yang biasa hidup di rawa-rawa, seperti ganggang, lumut, kangkung, dan sebagainya. Asal bukan genjer-genjer. Seandainya memilih motif, carilah motif yang bernuansa rawa-rawa. Pilihlah warna yang kalem sebagaimana kalem dan damainya masyarakat Ngrowo.

Tulungagung, Desember 2003

home

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.