Oleh: Drs Suprayitno | Juni 3, 2010

Data Upacara Tradisional di Tulungagung


Data Upacara Tradisional di Tulungagung

NO. NAMA UPACARA ADAT JENIS UPACARA TEMPAT/ LOKASI WAKTU JALANYA UPACARA
1 2 3 4 5 6
1. Bersih Nagari ( Hari Jadi Tulungagung ) Peristiwa Alam Pendopo Kongas Arum Kusumaning Bangsa Tanggal 18 Nopember Rangkaian upacara di mulai dari Nyekar makam Leluhur/ para Bupati terdahulu.

Pelaksanaan upacara didahului kirab Panji Lambang Daerah dari kantor BUpati menuju Pendopo Kongas Arum Kusumaning Bangsa, sedangkan di pendopo telah dimulai acara dengan susunan : Pembacaan sejarah berdirinya Kabupaten Tulungagung, kemudian dipergelarkan fragmen sejarah berdirinya Kabupaten Tulungagung dilanjutkan penyerahan Panji Lambang Daerah. Selanjutnya sambutan Pejabat Daerah dan diakhiri dengan acara selamatan.

2. Siraman Pusaka Tombak Kyai Upas Peristiwa Alam Pendopo Kanjengan Kelurahan Kepatihan, Kec./Kab. Tulungagung Hari Jum’at setelah tanggal 10 bulan Sura Tahapan persiapan : mengumpulkan segala macam sesaji antara lain air 7 sumber, berbagai macam ayam dll.

Ratengan : memasak segala macam sesaji/ tumpeng sejumlah 46 macam.

Adapun pelaksanaan siraman diawali KIrab Srana Mulya             ( berupa air dan beberapa ayam ) dari pendopo Kabupaten. Sedangkan Pendopo Kepatihan telah dimulai acara siraman dengan acara : pembacaan legenda Kyai Upas, sambutan pejabat daerah, siraman pusaka dengan diiringi tahlilan, berakhir dengan selamatan dan pada malam harinya dilaksanakan pergelaran wayang kulit semalam suntuk.

3. ULur – ulur Peristiwa Alam Telaga Buret, Desa Sawo Kecamatan Campurdarat Setiap Bulan Sela Upacara diawali kirab sesaji dari rumah tokoh menuju telaga. Sesampainya disana acara dimulai dengan pembacan legenda Telaga Buret., sambutan para tokoh dan pejabat daerah. Ujut syukur kehadapan Tuhan atas air yang  selalu melimpah untuk mengairi sawah di tiga desa tsb. Acara diakhiri dengan selamatan dan makan bersama.
4. Manten Kucing Peristiwa Alam Telaga Coban Krama

Desa Pelem Kecamatan Campurdarat

Pada musim kemarau panjang diantara bulan Juli s/d Agustus Upacara diawali kirab sesaji dan sepasang penganten kucing, sesampinyadi telaga dua ekor kucing tsb. Dimandikan oleh pemangku adapt di Sendang Jambu.

Kemudian diadakan selamatanmemohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa semoga segera diturunkannya hujan. Kemudian sepasang penganten kucing diarak menuju panggung untuk mengikuti acara berikutnya, antara lain sambutan para tokokh dan pejabat daerah, kemudian sebagai hiburan dipergelarkan tarian rakyat yang sudah menjadi tradisi yaitu tari tiban.

5. Sholat Istiqo / setika Peristiwa Alam Desa Sumberjo Wetan, Kecamatan Ngunut (biasanya bertempat dilapangan / sawah) Musim Kemarau Panjang Upacara diikuti para tokoh ulama dan masyarakat untuk mengikuti sholat bersama yang dipimpin oleh seorang imam yang ditunjuk. Setelah selesai kemudian diadakan selamatan dan panjatan do’a bersama dan diakhiri upacara memandikan seekor kucing.
6. Labuh Laut Peristiwa Alam a. Pantai Popoh

Desa Besole Kecamatan Besuki

b. Pantai Sine

Desa Kalibatur, Kecamatan Kalidawir

c.  Pantai Brumbun

Desa Jengglungharjo Kecamatan Tangunggunung

Bulan Sura

Bulan Selo

Bulan Selo

Upacara dimulai do’a bersama bertempat di Pendopo Agung, kemudian dilaksanakan ziarah kemakam Eyang Guru Wali, seorang tokoh cikal bakal tempat tersebut.

Sebai acara terakhir adalah melarung sesaji yang dilengkapi sebuah perahu kecil ke tengan lautan sebagai bagian permohonan dan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan berharap diberikan hasil tangkapan ikan yang melimpah. Sebagai acara penutup dipergelarkan berbagai macam kesenian sebagai sarana untuk menarik para wisatawan baik domestic atau manca Negara.

Upacara diselenggarakan oleh para penduduk yang umumnya para nelayan yang dipimpin oleh perangkat desa dan tokoh masyarakat.

Sebagai acara awal diadakan selamatan bersama, kemudian dilanjutkan larung sesaji yang dinamakan Sembonyo                      ( berupa jajan berbentuk berbagai jenis ikan laut ) dilempar- lemparkan ketengah laut sepanjang pantai dengan diiringi kesenian tradisional jaranan.

Seperti ditempat – tempat lain, upacara diawali dengn selamatan dan do’a bersama, kemudian diadakan larung sesaji ketengah lautan, sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa semoga selalu diberikan keselamatan dsb.

7. Kirab Kyai Golok Peistiwa Alam Desa Majan Kecmatan Kedungwaru Bulan Sura Jalanya upacara diawali dengan kirab pusaka ( sebuah pusaka berbentuk Golok / badik ) keliling desa menuju sebuah masjid tua. Kemudian diadakan upacara selamatan dan panjatan do’a bersama dan diakhiri makan bersama.
8. Suran Peristiwa Alam Tersebar seluruh pelosok daerah Bulan Sura Upacara ini pada umumnya diselenggarakan oleh masyarakat Jawa yang tergabunng dalam organisasi penghayat dsb. Adapun acara yang dilaksanakan biasanya : selamatan, ceramah hikmah bulan Sura dan diakhiri dengan pergelaran kesenian.
9. Petik Padi ( Ider – ider ) Peristiwa Alam Sda Saat padi telah siap panen Tahapan awal ditengah – tengah sawah didirikan rumah – rumahan kecil ( tarub ) kemudian pada sore hari menjelang magrib dilaksanakan ider ( mengelilingi sawah dengan membakar kemenyan ).

Pada pagi harinya dilaksanakan Methik dengan membawa berbagai macam sesaji kesawah. Pada acara tersebut dipetiklah segenggam batang padi ( sebagai mantenya, digambarkan sebagai Jaka Sedana dan Dewi Sri ) kemudian dibawa pulang. Sesampainya di rumah, diselenggarakan selamatan sebagai rasa syukur kepada Tuhan Yang maha Esa dengan harapan semoga diberikan hasil yang melimpah.

10. Daur Hidup ( upcara ritual sejak manusia dalam kandungan sampai meninggal dunia ) Lingkaran Hidup Sda Sewaktu – waktu Menyesuaikan dengan acara yang dilaksanakan um : Tingkepan, motoni, kitanan, mantenan, tujuh hari setelah meninggal dunia dsb.
11. Siraman Barongan Peristiwa Alam Jambangan Situs Punden Mbah Bodo, Kecamatan Sendang Bulan Agustus Melestarikan peristiwa pada jaman Majapahit yang dipimpin oleh Raden Wijaya, yaitu menggambarkan iring – iringan Tribuanan Tungga Dewi dan para punggawa keraton ada yang menyamar bakul jamu, tetek melek, bancak doyok, pekatik ( orang yang memelihara kuda ) menuju ke Majapahit sampai sekarang ditiru ke masyarakat sebagai tontonan jaranan dan upacara Siraman Barongan
About these ads

Responses

  1. [...] Data Upacara Tradisional di Tulungagung [...]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: